Historical Romance: Kekasih Lady Sophia – Lady Sophia’s Lover [Bow Street #2]

Good news for romantic story geek!  Lady Sophia’s Lover atau Kekasih Lady Sophia yang merupakan buku kedua dari Seri ‘Bow Street Runners’ ini, sudah dirilis sejak 27 september 2012. Bagi Anda yang belum mengenal novel ini sejak seri pertamanya, you don’t have to worry! Anda bisa ‘berkenalan’ dulu dengan seri pertamanya yang bertajuk Someone To Watch Over Me, tentunya karya Lisa Kleypas.

Sinopsis:

Lady Sophia akan melakukan apa pun untuk menjerat Sir Ross Cannon—Kepala Magistrat Bow Street. Tujuannya menghancurkan reputasi pria itu dan menyebabkan skandal yang akan menjadi bahan pembicaraan di London. Ia pun mulai memikat Ross dengan mendapatkan kepercayaan pria itu. Sophia tahu, hari demi hari Ross makin mencintainya. Tapi Sophia tak pernah memperhitungkan bahwa dirinya akan balas mencintai pria itu.

Identitas Buku:

  • Ukuran: 11 x 18 cm
  • Tebal      : 432 halaman
  • Terbit     : September 2012
  • Cover       : Softcover
  • ISBN        : 978-979-22-8840-7
  • No Produk: 40201120101
  • Harga      : Rp 55.000

Sumber: buku-cerita.com

(CDASA)

Advertisements

Top 20 Chart (MEC Radio Version)

Apa kamu mulai bosan dengan playlist di Ipod? Why don’t you just try to listen to this happening TOP 20 CHART (MEC RADIO VERSION)? Not a bad idea, huh?

Top 20 Chart

  1. One More Night – Maroon 5
  2. Separuh Aku – Noah
  3. Gangnam Style – PSY
  4. I Know You Were Trouble – Taylor Swift
  5. Some Nights – Fun
  6. Berdua – Calvin Jeremy
  7. Tulalit – Cinta Laura feat Rayi Ran
  8. Good Time  – Owl City & Carly Rae Jepsen
  9. Train – Drive By
  10. Live While Were Young – One Direction
  11. Salah Tingkah – RAN
  12. Could It Be – Raisa
  13. Whistle – Florida
  14. Charlie Brown – Coldplay
  15. Madness – Muse
  16. Cinta Tak Mungkin Berhenti – Tangga
  17. Summer Paradise – Simple Plan
  18. The Fighter – Gym Class Heroes
  19. Judika – Ku Tak Mampu
  20. Somebody That I Used To Know – Gotye

(CDASA)

Sammy’s Adventures 2: Escape From Paradise

Rilis : 16 Agustus 2012

Sinopsis :

Sammy kembali untuk memulai petualangan menyegarkan yang luar biasa dengan sekelompok teman baru! Sammy dan Ray membantu beberapa tukik (bayi penyu) ke laut, lalu ditangkap oleh pemburu dan dijual ke akuarium berteknologi tinggi milik restoran. Segera setelah mereka sampai di sana, Sammy dan Ray mulai merencanakan pelarian mereka, yang bukanlah tugas yang mudah untuk dilakukan dalam sebuah fasilitas modern seperti itu.

Sutradara : Ben Stassen
Penulis     : Domonic Paris
Pemain     : Pat Carroll, Carlos McCullers, dan
Isabelle Fuhrman.

(CDASA)

Aku Rindu Badudu (Miapah?)

‘Silahkan’? Bukan, yang benar adalah ‘silakan’. Makanya, kalimat yang benar adalah ‘dipersilakan’, bukan ’dipersilahkan’. Apotik? Salah lagi! Harusnya adalah apotek, juga diskotek (bukan diskotik), dan antre (bukan antri). ”Aaaah …. Bahasa kita ribet banget, sih, Bu?” merupakan komentar yang sering saya dengar dari kelompok muda atau generasi gungnam style ketika saya mengoreksi bahasa Indonesia yang mereka pergunakan.

Bagi anak-anak muda sekarang, memakai bahasa kita agaknya memang bikin repot. Barangkali, itu sebabnya muncul situasi seperti saat ini, yakni pemakaian bahasa Indonesia makin amburadul di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Sayangnya, hampir tak terdengar ada tokoh yang peduli pada carut-marut itu. Dulu, di era 1980an, orang mengenal nama Gorys Keraf dan Yus Badudu.

Saat ini, boleh jadi nama besar Gorys Keraf dan Yus Badudu baru ‘berbunyi’ di kalangan mahasiswa pemerhati bahasa maupun mereka yang memiliki minat pada hal tersebut. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan generasi yang dibesarkan oleh TVRI. Di jaman mereka, di saat TVRI merupakan satu-satunya tamu audio-visual di ruang keluarga, nama Yus Badudu akrab di telinga masyarakat. Ia mengasuh program bahasa Indonesia dan hadir seminggu sekali dengan kritikan maupun penjelasan tentang pemakaian bahasa Indonesia.

“Pergunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar,” merupakan kalimat penutup yang senantiasa diucapkannya. Ternyata, ‘baik’ saja belum cukup, namun harus disertai dengan ‘benar’. “Saya makan dengan ayam” bisa kita katakan baik, bisa dimengerti, namun salah karena pada kenyataannya kita makan bukan bersama-sama ayam. Itu sebabnya, yang baik dan benar adalah ‘saya makan ayam’. Begitu pula ‘langsing dengan jamu’ harus dikoreksi menjadi ‘langsing berkat jamu.’

Agaknya, yang ikut andil dalam membuat bahasa Indonesia seperti saat ini adalah mereka yang senang memakai bahasa asing dengan anggapan lebih keren atau menunjukkan kelas sosial. Belum lagi menjamurnya sekolah bertaraf (dan bertarif?) internasional yang mengajarkan bahasa Inggris sejak dini, sedangkan siswanya berbahasa Indonesia pun belum khatam. Seperti kisah nyata yang pernah saya dengar dari seorang rekan.

Di sebuah sekolah bertaraf internasional, murid-murid sekolah dasar disuruh membuat karangan bahasa Indonesia. Seorang siswa menulis, ”Orangtua saya akan pindah bekerja ke negara lain. Ketika saya akan meninggal, saya merasa sedih.”  Tentu saja gurunya bingung membaca kalimat ini. Logika uraian tidak ada dan ceritanya melompat. Ternyata, penulis ingin mengatakan bahwa jika orangtuanya pindah bekerja ke luar negeri maka mereka sekeluarga harus pindah juga. Sebetulnya, yang ingin disampaikan siswa tersebut adalah ”Saya merasa sedih karena akan meninggalkan teman-teman saya di Jakarta.” 

Faktor lain yang cukup berpengaruh dalam merusak bahasa Indonesia adalah penggunaan layanan text message (patut dicatat, bahasa Inggris yang benar untuk layanan pesan singkat adalah text message bukan short message). Layanan pesan singkat lewat ponsel mengutamakan ’yang penting pesannya dipahami’, masa bodoh soal logika bahasa maupun penulisan yang benar.

Lihat saja kalimat ini: w g t4u kl0 qIt4 lbur kuli4h (gue nggak tau kalo kita libur kuliah). Teknik menulis seperti ini memang taat asas pada EYD. Ya, Ejaan Yang Di-alay-kan. Ada beberapa hal yang menimbulkan kegeraman akibat ’bahasa sms’ seperti tadi. Pertama, merusak bentuk penulisan yang baku atau konvensional karena kita tidak mengenal huruf 0 (nol) dan 4 (empat). Keduanya adalah angka! Kedua, kita patut mempertanyakan, sejak kapankah kata ’kalo’ (kalau) bersinonim dengan ’bahwa’, karena pengirim pesan singkat menganggap: saya tidak tahu kalau kita libur kuliah adalah sama dengan saya tidak tahu bahwa kita libur kuliah.

Belum selesai problem bahasa yang dirusak oleh anak layangan alias alay, muncul trend ’bahasa anak TK’. Bahkan, bahasa yang kemanja-manjaan ini sudah muncul pula di iklan teve, seperti, ”miapah (demi apa?), ciyuuus (serius?), kiyim (kirim), gaboweh (nggak boleh), macacih (masa, sih?). Memang, setiap generasi bisa saja menghadirkan bahasa kelompoknya.

Selain kedua hal yang sudah disebutkan tadi, mata pelajaran maupun matakuliah bahasa Indonesia masih dipandang sebelah mata dalam sistem pendidikan kita. Di sebuah perguruan tinggi negeri matakuliah bahasa Indonesia sudah dihapuskan karena dianggap bisa diberikan sejalan dengan matakuliah lainnya. Padahal, tidak sesederhana itu.  Maka, lahirlah generasi yang kurang mampu mengutarakan gagasan atau idenya ke bentuk tertulis dalam bahasa Indonesia. Siapa yang mengoreksi mereka? Adakah yang mengoreksi mereka? Di saat seperti ini, saya rindu sosok seperti Yus Badudu. Sumpah, bukan sumpe.

(Amelita Lusia MSi.)

‘A9AMA SAYA ADALAH JURNALISME

Sinopsis

Sejak Indonesia mengganti Hindia Belanda, media makin terpusat ke Jawa. Rezim Soekarno menutup semua media yang dianggap berpihak Belanda. Nama baru diciptakan: pers perjuangan. Soeharto menciptakan istilah baru: pers pembangunan. Wujudnya berupa konglomerat media.

Kini batas jurnalisme tumpang tindih dengan propaganda, hiburan, iklan, dan seni. Bias para wartawan, entah dengan negara, kebangsaan, agama maupun etnik, jadi biasa. Antologi ini mengumpulkan bermacam diskusi soal jurnalisme sejak jatuhnya Soeharto pada 1998.

Angka 9 dalam judul buku ini malambangkan 9 Elemen Jurnalisme yang menjadi pedoman bagi wartawan yang dibahas oleh Bill Kovach dan rekannya (cari namanya). Dalam buku ini, Andreas Harsono, dengan pengalamannya di dunia jurnalisme sebagai wartawan beberapa media lokal maupun internasional, membahas 9 elemen Jurnalisme tersebut, serta membahas perkembangan media massa Tanah Air, tidak hanya dalam bidang profesi namun  juga dalam bidang akademik. Juga, hampir semua pertanyaan yang mungkin seorang jurnalis pertanyakan, dapat terjawab dalam buku ini.

Buku ini tidak hanya berguna bagi mereka yang bergelut di dunia jurnalisme, tapi juga bagi masyarakat sebagai peminat media massa.

(DSC)

Oktoberfest; Pesta Beer di Oktober

 

Oktoberfest merupakan salah satu festival termegah di dunia. Bagaimana tidak? Setiap tahunnya, festival ini mampu menyedot hingga 6 juta pengunjung! (72% Bavarians dan 15% turis). Curious about it? Keep reading!

Festival tahunan ini dimulai pada Sabtu pertama setelah tanggal 15 September dan berakhir pada hari Minggu pertama dibulan Oktober. Jika hari Minggu pertama ini jatuh pada tanggal 1 atau 2, maka festivalnya akan diperpanjang sampai tanggal 3 Oktober, untuk sekaligus merayakan The German Reunification Day atau Hari Persatuan Jerman.

Perayaan festival di kota Munich ini identik dengan minuman khas Jerman, yakni Beer. Kota Munich bagaikan lautan beer saat Oktoberfest. Pembukaan festival ini saja dibuka dengan cara membuka keran gentong beer yang dilakukan oleh walikota Munich. Harga per maβ atau gelas bir (berisikan satu liter bir) mencapai 9.20 euro atau sekitar Rp 110.000. Fyi, pada 2010 para wisatawan yang datang ke festival tersebut menghabiskan total 7,1 juta gelas bir!

Dalam perayaan Oktoberfest, selain beer dan makanan-makanan khas Jerman, suasana festival juga turut meramaikan acara. Sebut saja penampilan band yang memainkan lagu-lagu modern sampai lagu tradisional Bavarian. Kemudian terdapat juga wahana-wahana hiburan ala amusement park, yaitu ferris wheel, roller coaster, dan lain sebagainya. Untuk menjada tradisi, banyak pengunjung yang datang dengan mengenakan pakaian tradisional: Lederhosen untuk laki-laki; Dirndl untuk perempuan.

Sejarah Oktoberfest

Pada 12 Oktober 1810, Pangeran Ludwig (King Ludwig I) dan Putri Theresa dari Bavaria menikah. Untuk merayakan pernikahannya, pasangan tersebut mengadakan acara balapan kuda yang megah. Acara tersebut diselenggarakan pada 17 Oktober di sebuah lapangan bernama Theresienwiese yang berarti lapangan milik Theresa.

Berhasil menarik perhatian warga Munich, pasangan tersebut memutuskan untuk mengadakannya lagi di tahun berikutnya pada waktu yang sama. Kemudian jadilah tradisi Oktoberfest.

Lantas bagaimana cerita tradisi beer? Pada 1880, pemerintah kota akhirnya memberikan ijin untuk menyajikan beer dalam perayaan Oktoberfest. Teman pelengkap beer dalam Oktoberfest, yakni bratwurst (sosis khas Jerman) pada 1881 pertama kali diproduksi oleh Hendlbraterei.

Euphoria Oktoberfest turut dirasakan oleh beberapa kota di dunia, sebut saja Jakarta. Ketika masa Oktober tiba, tak jarang beberapa tempat di Jakarta, seperti hotel bintang lima dan kafe-kafe juga merayakan Oktoberfest. Biasanya, pada tempat-tempat tersebut diadakan juga minum beer dan makan makanan khas Jerman serta pesta dari malam hingga pagi. Interesting, right?

(CDASA)

Sumber: www.oktoberfest.de