Ketika Gemerlap Kota Membosankan, Fatahillah Memberi Jawaban

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau berguna sekali untuk menjadi kaca benggala dari masa yang akan datang,” ungkap Soekarno. Mata kita memang tidak buta, tapi apakah kita mau untuk berkaca?

Museum Fatahilah yang selalu ramai pengunujung

Matahari terus menunjukkan pesonanya saat jarum jam menunjuk angka satu. Sinarnya membasuh bangunan-bangunan di kawasan Kota Tua, menguatkan kesan klasik Jakarta tempo dulu.

Siang itu, pelataranMuseum Fatahillah tampak dipadati pengunjung. Padahal hari Selasa, namun untuk ukuran tempat wisata, Museum Fatahillah ramai pengunjung. Memang, dua tahun belakanganMuseum dengan ciri khas mempunyai daun jendela berwarna hijau itu, mulai memancarkan kharismanya. “Saya sudah empat tahun disini, museumnya rame baru dua tahun, dulu masih sepi,” ujar Budi seorang pedagang es potong di sebelah barat Museum Fatahillah. Walaupun baru memasuki awal kiprahnya di bidang pariwisata, prospek museum yang memiliki luas 1.300 meter persegi ini cukup menjanjikan, “Tiap tahun jumlah pengunjung meningkat,” tutur Hasirun, petugas bidang seksi koleksi dan perawatan Museum Sejarah Jakarta. Hasirun juga mengatakan jumlah pengunjung per harinya rata-rata bisa mencapai angka 1.000 pengunjung.

Ternyata, benar. Walaupun hari-hari biasa, Museum Sejarah Jakarta tetap ramai pengunjung. Wah, bagaimana kalau akhir pecan? Pasti lebih ramai dari hari-hari biasa. Memang, menurut Andi, pedagang tahu gejrot di sebelah barat pelataran museum, Fatahillah dibanjiri pengunjung pada hari-hari libur.

Namun, dari semua pemandangan yang dipamerkan oleh Museum Fatahillah, ada sebuah pemandangan menggelitik rasa penasaran dan mengundang pertanyaan berkecamuk dalam pikiran. Dari sekian banyak pengunjung, anak-anak dan kaum muda lah yang mendominasi tamu Fatahillah, siang itu. “Kebanyakan pelajar yang datang ke sini,” kata Hasirun. Meskipun kebanyakan pelajar, tapi mereka yang datang ke museum, yang arsitekturnya mirip istana Dam di Amsterdam ini, tidak hanya untuk belajar sejarah. Tujuannya pun bermacam-macam, ada yang hanya berkunjung, mengisi waktu luang, syuting film sampai kencan pun mereka lakukan di Museum Fatahillah. Tampaknya, museum yang menyimpan berbagai koleksi mengenai sejarah Jakarta ini, punya kelebihan tersendiri untuk pengunjungnya. Bahkan tidak jarang pengunjung dari luar kota yang sengaja ke Jakarta untuk menyambangi warisan peninggalan Belanda tersebut. Seperti tiga orang gadis asal Depok, Isti, Putri, dan Eti yang mengaku mendatangi Museum Fatahillah untuk berlibur. Mereka mengaku lebih memilih Museum Fatahillah untuk berlibur daripada harus pergi ke Mall dan membuang banyak uang.

Tidak hanya Isti, Putri, dan Eti, sekumpulan siswi SMP 32 Jakarta yang siang itu sedang berjalan-jalan melihat koleksi museum pun mengaku lebih baik berkunjung ke museum untuk mengisi waktu luang sekaligus belajar, daripada harus mengeluarkan banyak uang untuk jalan-jalan di Mall.

Pada awal masa modernisasi, keberadaan mall-mall seolah seperti sebuah oase ditengah padang pasir yang kering. Masyarakat butuh hiburan dan semuanya ada di mall. Dengan waktu sekejap, mall seolah menjadi tujuan wisata baru. Dalam kurun waktu satu tahun saja mall sudah menjamur dimana-mana. Orang datang berbondong-bondong untuk mengunjunginya. Namun, seiring perputaran bumi, gemerlap itu terlalu menyilaukan mata. Mulai ada rasa bosan yang menyelimuti. Akhirnya, banyak masyarakat yang mulai kembali pada pariwisata “konvensional” seperti, kebun binatang, taman bermain, dan museum.

Hal ini jelas terbukti, saat ini, setitik sinar dari jendela sejarah yang dulu dianggap usang, kini mulai menyaingi gemerlap hiburan yang menghiasi ibu kota. Memang, kehidupan itu butuh keseimbangan. Saat hingar bingar kehidupan kota sudah membuat bising di telinga, tempat seperti Museum Fatahillah bisa memberikan keseimbangan tersendiri.

Berada di kawasan khas Kota Tua, adalah salah satu keuntungan yang membuat namaMuseum Fatahillah menggema ke berbagai penjuru. Namanya juga Kota Tua, pasti bangunan-bangunan yang terdapat di tempat itu adalah bangunan tua dan itulah pemandangan yang dicari-cari banyak orang, apalagi di kotaJakarta yang semuanya terlihat modern. Setiap hari disuguhkan pemandangan beton-betn dan dinding kaca yang menjulang tinggi, diajak untuk terus berangan menuju masa depan. Namun, kehadiran Kota Tua dan segala isinya seolah menjadi kaca benggala, kaca yang bisa membantu kita untuk menerawang masa depan. Bukan sembarang menerawang tentunya, kita bisa berkaca dari masa lalu untuk menata masa depan yang lebih baik. Ya, kabar baiknya adalah masih banyak yang mau tahu tentang sejarah, semoga masih banyak juga yang menggunakan pengetahuannya agar bermanfaat bagi semua.

Bahkan, tidak jarang wisatawan mancanegara yang menyambangi Fatahillah. Mulai dari yang berambut pirang sampai berambut hitam, dan berkulit putih sampai berkulit hitam. Mereka datang dari berbagai benua. Ada yang dari Amerika, Afrika, Eropa, Australia, dan Asia. Mulai dari negara tetangga, sampai negara seberang yang dipisahkan oleh samudera lepas. Mereka semua datang untuk mengetahui sejarah Jakarta, tentunya.

 Selain itu, ditunjang dengan biaya yang lebih murah, museum mulai banyak diminati. Dengan tarif Rp 1.000 untuk pelajar dan Rp 2.000 untuk dewasa, Museum Fatahillah dapat menyedot banyak pengunjung. Arsitektur jaman Belanda juga menjadi daya pikat yang luar biasa. Lantai dan tangga yang terbuat dari kayu, dinding yang usang, ornamen-ornamen masa penjajahan membuat museum berlantai dua ini berbeda dengan museum-museum lainnya di Jakarta. Banyak orang-orang yang memanfaatkan keindahan arsitektur dan kekunoan Museum Fatahillah untuk berfoto, syuting video clip, bahkan syuting film.

Melihat kondisi bahwa wisata sejarah seperti, Museum Fatahillah banyak diminati masyarakat, pembenahan museum perlu diperhatikan. Mulai dari perawatan bangunan, perawatan koleksi, perawatan kebersihan, hingga tata letak barang-barang koleksi. “Museumnya kurang rapi,” kata salah satu siswi SMP Negeri di Jakarta, yang sedang berjalan-jalan menikmati Museum Fatahillah. “Disini, kan, kadang suka ada yang kotor-kotor, seharusnya dibersihin,” aku Isti pengunjung asal Depok.

Sepertinya memang sudah menjadi hal yang biasa, orang Indonesia banyak melakukan pembangunan, tapi, ya, dibangun saja, tidak pernah dirawat. Hal inilah yang membedakan museum di Indonesia dengan museum di negara lain. Sebenarnya prospek museum di Indonesia bisa jauh lebih cemerlang dari saat ini, kalau saja perawatannya dilakukan secara benar. Melalui cara itu,  bukan tidak mungkin nantinya kilau museum akan mengalahkan kilau mall-mall yang megah itu.

Terbukti, saat ini Museum Fatahillah, sebagai salah satu museum yang terkenal, menjadi ramai oleh pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia itu mencintai sejarahnya, namun fasilitas untuk mencintai sejarah itulah yang kurang diperhatikan. Istilahnya, bagaimana mau mencintai jika yang dicintainya saja tidak pernah diketahui?

Tanda dilarang berfoto

Saat ini saja, museum-museum yang sudah berdiri, kebanyakan hanya dijadikan tempat pengunjung untuk berfoto-foto. Padahal jelas-jelas tertulis larangan ‘Dilarang Foto-foto’ di dinding setiap ruangan. Tidak adanya petugas yang mengawasi dan menegur, itulah alasan pengunjung tetap berfoto. Berpose bersama barang antik di bangunan yang klasik seolah menjadi tren tersendiri. Memajang foto dengan pose yang demikian di jejaring sosial seolah menjadi kebanggaan tersendiri. Seharusnya, museum tidak hanya menjadi tempat untuk berfoto-foto saja karena memang tujuan dibukanya museum bukan untuk itu. Museum harus bisa menjadi wisata yang menambah pengetahuan dan kecintaan terhadap sejarah bangsa sendiri.

Jika nantinya museum akan terus berkembang, pasti banyak pihak-pihak yang ikut kecipratan rejekinya. Mulai dari pemasukan daerah, pendapatan petugas, bahkan sampai pendapatan pedangang-pedagang di sekitarnya seperti, pedagang es, makanan, pernak-pernik, dan ojek sepeda. Selain hal materiil, perkembangan museum juga bisa menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar karena telah menghargai sejarahnya. Seperti sebuah kutipan Bung Karno yang berbunyi ‘Bansa yang Besar Adalah Bangsa yang Menghargai Sejarah’. Melalui museum kita bisa belajar sejarah dengan cara lebih mudah, tidak membosankan, dan bisa sambil berlibur bersama teman-teman, keluarga, atau kekasih tercinta.

Ya, ketika kita bosan dengan liburan ‘a la kota’, wisata sejarah bisa menjadi salah satu alternatif tujuan wisata. Kini, liburan tidak selalu identik dengan hura-hura dan menghamburkan uang. Memperkaya ilmu sambil menyegarkan pikiran dan bersenang-senang bisa Anda dapatkan di berbagai museum, salah satunya adalah Museum Fatahillah. Inilah jawaban dari kebosanan masyarakat yang terus dijejali oleh modernisasi, ya, Fatahillah memberi jawaban. Semoga, jawaban itu benar.

(TRI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s