Phuket, Surganya Pantai Indah

Nama Phuket memang terkenal semenjak Leonardo Di Caprio mempopulerkannya lewat film The Beach. Tapi sebelumnya, belum banyak orang yang tahu bahwa kota di Thailand tersebut memiliki begitu banyak pantai yang sangat indah. Rasanya belum ke Phuket kalau tidak berkunjung ke pantai-pantai berikut!

  • Patong Beach
Image

Kursi gratis yang menambah nilai plus Pantai Patong (Dok: Via)

Pantai Patong bisa dibilang sebagai ‘Kuta-nya Phuket’, yaitu sebagai pusat wisata dan hiburan bagi para turis. Walaupun terbilang sebagai pantai yang selalu ramai, Pantai Patong memiliki area pantai yang sangat bersih dengan air laut berwarna biru gradasi. Fasilitas yang ditawarkan di sekitar pantai pun beragam, seperti kursi santai gratis dan water sports, seperti jetski dan parasailing dengan tarif murah.

Selain area pantai yang bersih, berjejer pula berbagai macam restoran dan klub hiburan, hotel, toko souvenir, hingga kios thai massage bagi para turis yang merasa lelah sehabis berjalan-jalan. Mirip dengan Pantai Kuta di Bali!

  • Khai Island
Image

Berenang bersama ikan-ikan hias (Dok: Via

Untuk mencapai Khai Island, wisatawan bisa menyewa kapal dari pelabuhan SangRat atau bisa mengikuti tur kolektif yang ditawarkan oleh agen wisata atau hotel di sekitar Phuket. Harga yang ditawarkan pun tidak terlalu mahal, mengingat semua fasilitas sudah disediakan oleh pihak agen wisata.

Perjalanan dari pelabuhan membutuhkan waktu sekitar 20 menit menggunakan speedboat. Setelah itu, wisatawan diminta menaiki kapal kayu kecil karena speedboat tidak bisa mencapai pesisir Pulau Khai. Setibanya di Pulau, wisatawan akan disambut dengan welcome drink dan peralatan snorkeling. It’s time for snorkeling!

Yang membedakan Pulau Khai dengan pulau-pulau lain adalah, terdapat banyak ragam ikan hias yang berenang di pesisir pantai. Jadi, wisatawan akan berenang bersama dengan ikan-ikan di sekitar badan. Geli tapi seru! Kapan lagi bisa berenang dengan ikan-ikan di sekitar badan :p

  • Maya Bay
Image

Karang-karang besar nan tinggi yang mempercantik Maya Bay (Dok: Navia)

Masih dengan menggunakan speedboat yang sama, wisatawan akan diantar menuju Maya Bay, lokasi syuting film The Beach yang dibintangi oleh Leonardo Di Caprio. Walaupun memakan waktu yang cukup lama, yakni sekitar 1 jam, namun mata para wisatawan dimanjakan dengan warna air laut yang biru jernih dan karang-karang besar dengan berbagai bentuk.

Maya Bay terletak di teluk dan ditutupi oleh karang-karang yang menjulang tinggi ke atas. Pantai ini pun sangat bersih dengan hamparan pasir putih nan halus, karena merupakan teluk yang tidak berpenghuni. Dengan air yang begitu jernih dan pasir yang halus, wisatawan pun tidak akan melewatkan untuk berenang dan snorkeling di Maya Bay!

Nah itu dia pantai-pantai yang wajib dikunjungi jika Sobat MeClub berkunjung ke Phuket! Masih banyak lagi tempat-tempat wisata di Phuket yang patut dikunjungi selain pantai. Makanya mulai nabung dari sekarang yuk biar bisa jalan-jalan ke Phuket 😀

(VIA)

Yuk, Intip Serunya Tifo Craft UB 2013!

Senin, 25 Maret 2013 lalu menjadi hari yang tidak terlupakan bagi Himpunan Mahasiswa Manajemen Universitas Bakrie (HMM UB), sebab acara tahunan milik HMM UB yang bertajuk Tifo Craft (Traditional International Food and Creativity Hand Made Festival) kembali hadir. Acara yang digelar di Area Plaza Festival dan Ruang 1, 2 Universitas Bakrie ini, terdiri atas 3 rangkaian acara, yakni talk show, workshop, dan bazaar. Seperti apa sih serunya? Yuk, baca ulasannya!

Talkshow with Indonesian Crafters

Siang itu koridor di depan Ruang 1 dan 2 UB diramaikan oleh stand-stand bazaar dan suara mc dari pengeras suara yang sibuk mengajak peserta talkshow dan workshop Tifo Craft 2013 untuk memasuki Ruang 1 dan 2. Ruangan memang masih belum terisi penuh oleh peserta Tifo Craft 2013 ketika waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Acara terpaksa ngaret 20 menit dari jadwal yang sudah ditentukan, karena menurut penuturan Ketua Panitia Tifo Craft 2013, Niki Oktavia Wijaya, beberapa dari mereka ada yang masih kelas dan asistensi.

Walaupun terlambat, antusiasme peserta tidak surut lho Sobat Meclub! Mereka segera duduk manis di atas karpet merah begitu kedua mc membuka Talk Show Tifo Craft 2013. Tema Fusion Wonders; Whole World in One History, dipilih oleh panitia dengan tujuan untuk menggabungkan tema budaya tradisional dan internasional dari food and craft agar dapat lebih bernilai jual.

Talkshow with Indonesian Crafters

Talkshow with Indonesian Crafters

Sesi Talk Show Tifo Craft tahun ini fokus pada kesenian dan kerajinan tangan. Tak heran, pembicara yang diundang adalah founder dari Indonesian Crafter. Fyi, Indonesian Crafter adalah wadah aktualisasi crafter Indonesia. Nama Indonesian crafter dipilih agar terdengar lebih global. Nah, terbukti nih kata pepatah bahwa nama itu adalah doa, karena Indonesian Crafter sudah go international lho Sobat Meclub! Hand made craft karya anggotanya sudah sampai ke Jepang dan Hawaii. Salute!

Indonesian Crafter resmi dibentuk pada Desember 2011 di jejaring sosial, facebook. Berawal dari 25 orang anggota, sekarang group facebook Indonesian Crafter sudah di ramaikan oleh lebih dari 1000 anggota dan 400 peminat yang masih pending karena belum di approve. Termasuk di dalamnya WNI dari Sabang sampai Merauke dan WNI yang ada di Belanda, Jepang, dan India. WOW!

Walaupun saat ini Indonesian Crafter belum memiliki basecamp atau sekretariat, anggotanya sering kopi darat untuk melakukan pertemuan rutin. Kegiatannya antara lain, arisan bulanan, sharing ilmu dan workshop untuk para member baru. Untuk acara tahunannya mereka ada Hand Made Hysteria, yaitu workshop, bazaar, dan talkshow seputar dunia handmade. Seru kan Sobat Meclub?!

Indonesian Crafter pernah lho diundang Pertamina pada 2012 dalam rangka ulang tahun Pertamina, yaitu untuk membuat Scrapbook Competition dengan tema Go Green! Waduh, kurang keren apalagi tuh Sobat Meclub? Nah, Kalau Sobat Meclub berminat untuk join sebagai member Indonesian Crafter, langsung saja kunjungi blog mereka di alamat: http://indonesiancrafters.blogspot.com/  Tidak dipungut biaya dan syaratnya Sobat Meclub harus punya karya handmade sendiri (bukan plagiat) dan punya blog.

Oh iya Sobat Meclub, Mbak Chesie, founder Indonesian Crafter, bilang kalau Indonesian Crafter ingin mengedukasi masyarakat agar menghargai hasil kesenian dan kerajinan tangan. “Apapun hasil craft gak boleh dipandang sebelah mata. Jangan tawar harga sadis untuk harga barang handmade, karena dalam pembuatannya ada waktu yang dikorbankan, yaitu pengorbanan waktu dan ada ide orisinil”. Ingat pesan yang ini ya Sobat Meclub 🙂

Workshop: “Light Up Your Creativity in the House of Creation”

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 14.10,sesi bincang-bincang  berganti menjadi sesi Workshop (masih dari Indonesian Crafter). Ruangan 1 dan 2 diseparasi, karena ada 2 Workshop, yaitu Paper Craft dan Character Doll. Masing-masing ruangan dipimpin oleh tutor yang ditemani oleh beberapa tutor lainnya untuk membimbing peserta workshop membuat karyanya masing-masing. Sesi workshop ini seru banget lho Sobat Meclub! Karena hasil karya peserta boleh dibawa pulang dan ada pemilihan hasil craft terbaik.

Tutor sedang membimbing peserta Workshop Paper Craft

Tutor sedang membimbing peserta Workshop Paper Craft

Peserta sedang serius mengerjakan character doll yang dibimbing oleh tutor

Peserta sedang serius mengerjakan character doll yang dibimbing oleh tutor

Perangkat Character Doll milik Indonesian Crafters

Perangkat Character Doll milik Indonesian Crafters

Suasana Bazaar

Stand Craft yang ada di depan Ruang 1 dan 2 UB

Stand Craft yang ada di depan Ruang 1 dan 2 UB

Stand Indonesian Crafters

Stand Indonesian Crafters

Handmade yang dipamerkan di Stand Indonesian Crafters

Handmade yang dipamerkan di Stand Indonesian Crafters

Suasana Bazaar Food di Area Plaza Festival

Suasana Bazaar Food di Area Plaza Festival

Pemenang stand terbaik, Loempia Boom, milik  Chintara, Manajemen 2010. Congrats! (Dok. Tifo Craft 2013)

Pemenang stand terbaik, Loempia Boom, milik Chintara, Manajemen 2010. Congrats! (Dok. Tifo Craft 2013)

 Salah satu peserta dan pengunjung Tifo Craft 2013, Septika, Mahasiswi Ilkom 2010, mengaku senang telah berpartisipasi. “Walaupun agak telat, tapi overall tema dan pembicara workshop nya bagus. Soalnya mereka beda dan inspiratif. Dan enaknya abis talkshow itu ada workshopnya langsung, jadi kayak brand experience gitu. Jadinya gak rugi, karena panitia juga udah sediain lengkap alat dan bahannya.” Sebagai kritik dan saran bagi panitia Tifo Craft 2013, menurut Septika, MC acara harus lebih bisa menghidupkan suasana dan jangan terpaku sama kartu petunjuk. Good advice Septika 🙂

Ketua Panitia Tifo Craft 2013, Niki Oktavia Wijaya, juga mengaku senang dan puas atas berlangsungnya Tifo Craft 2013 ini. “Aku puas banget, karena target tiket internal kejual sesuai harapan. Semoga untuk Tifo Craft tahun depan tetap ada workshop seperti tadi”. Wah selamat ya untuk panitia Tifo Craft 2013, well done!

(CDASA)

Gerimis Rabu Malam, Poni Lempar, dan Kegilaan Helikopter

Konser Bloc Party, Tennis Indoor Senayan— Rabu 20 Maret lalu menjadi tanggal bersejarah, setidaknya bagi para pendengar musik bertelinga cerdas yang memuja band asal Inggris ini. Penantian selama delapan tahun (terhitung sejak 2005, tahun saat mereka muncul ke permukaan) akhirnya datang juga. Malam itu, Tennis Indoor Senayan yang bercuaca rintik-rintik akibat diguyur hujan sore harinya, disesaki pemuda-pemudi berusia duapuluhan yang berdandan keren dan apik ala masa kini. Semua tentu menunggu penampilan empat pemuda bernama Kele Okereke, Matt Tong, Russell Lissack dan Gordon Moakes yang menyebut diri mereka Bloc Party. Namun sebelum itu, aksi indie-pop lokal bernama The Adams menghibur para muda-mudi Indonesia (dan beberapa bule yang terlihat menjulang diantara mereka) dengan hits seperti “Konservatif”, “Hanya Kau”, dan “Halo Beni”.

Sumber foto: Hai Online

Sumber foto: Hai Online

Selang menghilangnya The Adams dari panggung, para hadirin cukup dibuat bosan dengan menunggu dan menunggu. Saya sendiri menghitung dengan arloji, bahwa setidaknya satu jam terbuang dengan menonton video iklan dari promotor di layar kanan-kiri panggung, juga mengamati para crew hilir mudik mengetes alat musik para bintang malam itu. Dan akhirnya pukul 10 malam lebih sedikit, para jejaka London tersebut muncul di panggung. Kele terlihat mengenakan kaus bertuliskan ‘Support your local artist’ dengan pilihan font Helvetica, Russell dengan kaus kekecilan dan poni lempar yang jadi ciri khasnya, Gordon berkemeja santun, dan Matt hanya mengenakan apa yang disebut para wanita sebagai hot pants tanpa penutup tubuh bagian atas. Tanpa ba-bi-bu publik dihajar dengan “So He Begins To Lie”, tembang dari album teranyar mereka, Four. Mungkin publik kurang begitu terbakar dengan lagu ini, sehingga setelahnya, Kele sang vokalis menyapa, “Hello, we’re Bloc Party from London, England!’ dengan aksen British yang kental. Respon yang masih datar membuatnya kembali berteriak, “I said we’re Bloc Party from London, England, how’re you doin’!

Sumber Foto: Okezone

Sumber Foto: Okezone

Hingga lagu keenam, Kele dan rekan terus menyuguhi Tennis Indoor dengan single mereka, namun tanpa adanya lagu dari album pertama yang legendaris. “Banquet” lah yang menebus ‘dosa’ tersebut, yang langsung disambut gila oleh penonton. Tanpa ampun, “Coliseum” yang bernafas hard-rock, “Day Four”, hingga “One More Chance” yang mengubah lapangan tenis menjadi dance floor dibawakan dengan indah oleh Bloc Party. “Octopus” dan “We Are Not A Good People” menyusul dan mengakhiri sesi apa yang Kele sebut sebagai first round. Ah, ternyata empat pemuda itu berlalu ke belakang panggung, bersiap untuk aksi klasik konser yang dikenal dengan encore.

Sumber Foto: Hai Online

Sumber Foto: Hai Online

Dengan sedikit panggilan manja dari para fans, “we want more”, mereka muncul lagi di panggung dan membawakan “Kreuzberg”, hits manis dari album kedua. Satu lagu setelahnya, Kele si pemuda berkulit hitam legam bercerita bahwa mereka akan membawakan lagu yang pasti sudah ditunggu-tunggu sejak delapan tahun lalu. Dan benar saja, intro gitar “This Modern Love” berkumandang dan sekali lagi, lapangan tenis bergoyang. Selepasnya, Kele mengajak para wanita turut menyanyikan suatu lagu, seiring ketiga musisi memainkan irama musik dari “We Found Love” milik Rihanna (Gordon sang bassist beralih peran dengan memainkan synthesizer). Ternyata mereka memakainya sebagai intro menuju “Flux”, lagu Bloc Party beraroma disco yang diambil dari album A Weekend In The City versi re-issue. Entah hanya saya saja yang merasakan hal ini, tapi hanya terlihat sebagian penonton yang berdansa dengan lagu seenerjik itu. Mungkin mereka memang kurang familiar dengan hits ini (yang memang tidak masuk di rilisan awal A Weekend In The City). Bloc Party kembali menghilang ke belakang panggung setelahnya.

Sumber Foto: Hai Online

Sumber Foto: Hai Online

Encore kedua menghasilkan lagu megah, dahsyat dan syahdu berjudul “Sunday”. Seisi lapangan tenis bersenandung mengikuti Kele, dan sayapun menyaksikan sepasang pria yang sepertinya bersahabat, berangkulan dan mengerahkan isi hati dan pita suaranya untuk lagu ini. Mungkin mereka memiliki pengalaman pribadi mirip dengan penggalan lirik lagu ini? “I love you in the morning, when you’re still hangover”. Entahlah. Yang pasti setelahnya, “Like Eating Glass” diperdengarkan. Penonton bersikap seakan tahu bahwa show akan segera berakhir, mereka ber-sing along dengan riuhnya mengikuti suara Kele yang berkarakter tebal dan unik. Benar saja, Russell segera menyiksa amplifier dengan intro “Helicopter”, satu lagu yang sudah pasti menjadi penutup konser Bloc Party. Hanya satu kata tersedia di kamus bahasa Indonesia untuk menggambarkan reaksi para fans, PECAH.

Sumber Foto: Hai Online

Sumber Foto: Hai Online

Euforia Rabu malam menyisakan beberapa ganjalan di diri mereka yang hadir di Senayan kali itu. Beberapa hits favorit seperti “Mercury”, “So Here We Are”, “The Prayer”, dan “Pioneers” luput dibawakan oleh kuartet multi-etnis tersebut. Entah tujuan apa yang ingin diraih dengan ditinggalkannya hits diatas, namun kiranya performa Bloc Party malam itu cukup memuaskan dan membuat saya kerap senyum-senyum sendiri hingga sekarang. Sebuah malam yang menghibur kerinduan publik Indonesia akan aksi indie rock jempolan namun bersahaja yang berasal dari negeri hooligan.

(Soraya Hanna)

Yuk, Intip 8 Manfaat Berjemur!

berjemur

Banyak orang yang menghindar dari paparan sinar matahari dengan berbagai alasan. Mulai dari khawatir terkena kanker kulit, katarak, bahkan sampai ada yang hanya karena takut hitam. Hem, sebetulnya sinar matahari gak melulu negatif lho Sobat Meclub. Sejumlah penelitian membuktikan bahwa paparan sinar matahari sebenarnya memberikan bagitu banyak manfaat kesehatan, jika digunakan dalam waktu dan jumlah yang tepat.

Salah satu cara untuk menyerap paparan sinar matahari adalah dengan berjemur. Sobat Meclub gak perlu membayangkan harus berjemur di pantai dengan two-piece swimwear. Jalan santai di pagi dan sore hari, menyapu halaman, atau cukup duduk manis sambil baca majalah di bawah paparan sinar matahari juga sudah dikategorikan sebagai kegiatan berjemur. Nah, waktu yang tepat untuk berjemur adalah di luar pukul 10.00 sampai 16.00, sebab di antara waktu-waktu tersebut sinar UV dapat merusak kulit dan dapat memicu timbulnya kanker.

Yuk langsung aja intip 8 manfaat berjemur yang dilansir dari kompas.com.

1. Vitamin D : Paparan sinar matahari pada wajah, leher, lengan, dan kaki selama 10-15 menit dapat menghasilkan 1.000 unit internasional (IU) sampai 3.000 IU, tergantung pada jenis kulit dan kebutuhan vitamin D yang diperlukan oleh tubuh masing-masing dalam satu hari.

Vitamin D berfungsi untuk meningkatkan penyerapan kalsium di dalam usus dan mentransfer kalsium melintasi membaran sel, sehingga dapat menguatkan tulang. Vitamin D juga dapat memberikan perlindungan terhadap jenis kanker (seperti kanker paru-paru, prostat, dan kulit), osteoporosis, rakhitis, dan diabetes. Selain itu, vitamin D dapat membantu menurunkan kadar kolestrol darah sehingga membantu melawan penyakit jantung.

2. Serotonin : Sinar matahari juga dapat merangsang produksi hormon serotonin, sebuah neurotransmitter di otak yang mengatur suasana hati. Tingkat serotonin yang cukup tinggi dapat menghasilkan suasana hati yang lebih positif dan cara berpikir yang tenang dengan mental yang fokus.

3.  Memperbaiki kulit : Berjemur dengan aman telah terbukti memperbaiki kondisi kulit kronis, seperti jerawat, eksim, dan psoriasis. Terpapar sinar matahari juga dapat menurunkan manifestasi dari Stretch Mark, bekas luka, dan ketidaksempurnaan kulit lainnya.

4.  Turunkan risiko kanker : Sintesis vitamin D, yang disebabkan oleh sinar matahari, dapat menurunkan risiko dari berbagai bentuk kanker seperti kanker prostat, kanker payudara, kanker usus, dan kanker ovarium. Tetapi hati-hati, terlalu lama terpapar sinar matahari justru dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit.

5. Menguatkan sistem kekebalan : Sinar matahari dapat menguatkan sistem kekebalan tubuh, karena ketika terpapar sinar matahari, tubuh menghasilkan lebih banyak sel darah putih yang membantu menangkal infeksi dan berbagai penyakit akibat bakteri, jamur, dan virus.

6.  Detoksifikasi tubuh : Paparan sinar matahari juga dapat meningkatkan pengeliminasian racun dalam tubuh dengan memperbaiki fungsi hati. Selain itu, sinar matahari juga meningkatkan sirkulasi darah, sehingga racun-racun tereliminasi lebih efisien melalui darah.

7.  Perbaiki kualitas tidur : Dengan terpapar sinar matahari, produksi melatonin pun meningkat. Melatonin adalah suatu hormon yang diproduksi oleh kelenjar pinea-organ tubuh berukuran seperti kacang kecil yang ditemukan di dasar otak. Melatonin sangat dibutuhkan unutk kualitas tidur yang baik.

8.  Perbaiki sistem pencernaan : Sinar matahari juga merupakan pengobatan terbaik untuk meningkatkan nafsu makan. Selain itu juga dapat memperbaiki sistem pencernaan dan meningkatkan metabolisme.

Ohya Sobat Meclub, walau memiliki berbagai macam manfaat bagi tubuh, namun para ahli mengingatkan bahwa paparan sinar matahari yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan mata, melanoma, dan kanker kulit. Jadi pastikan memilih waktu yang tepat untuk mendapatkan paparan sinar matahari serta melindungi kulit dengan mengenakan topi, pakaian yang tepat, atau menggunakan sun screen.

(CDASA)

Say Hi to D’Junction!

Jakarta (14/03)— Unit Kegiatan Mahasiswa Jurnalistik Universitas Bakrie sukses menggelar D’Junction (Day of Journalism in Action) di Ruang 1 dan 2 Universitas Bakrie. Acara yang bertemakan Born This Way ini terbagi ke dalam 2 sesi, yaitu seminar Travel Writing dan Film Documenter.

Antusias peserta seminar berhasil menggebrak panitia D’Junction untuk membuka gate ruang seminar pada waktu yang dijanjikan yakni pukul 9.45 WIB. Kehadiran Rini Raharjanti sebagai pembicara seminar Travel Writing semakin memeriahkan suasana ruangan yang sudah dipenuhi oleh puluhan mahasiswa/i Universitas Bakrie. Sebagai Travel Writer, Mbak Rini (begitu sapaan akrabnya) dengan senang hati membawa jalan-jalan peserta D’Junction menelusuri pengalamannya.

Rini Raharjanti dalam seminar bertema "Travel Writing: Write Your Travel, Travel Your Write" (Doc.Ritma)

Rini Raharjanti dalam seminar bertema “Travel Writing: Write Your Travel, Travel Your Write” (Doc.Ritma)

Pengalamannya di bidang Travel Writing tidak diragukan lagi. New Zealand, Travelicious Jakarta, dan Rp 3 Jutaan Keliling India, adalah 3 buku yang telah ditelurkan oleh Mbak Rini. Sebagai sosok yang telah banyak memakan asam garam di dunia Travel Writing, ia membocorkan tips untuk membuat karya jurnalistik perjalanan. Pertama, the writer has to grab attention immediately, yakni dengan membuat struktur tulisan yang benar. Kemudian, penulis juga harus mampu menceritakan dari angel yang berbeda.

Setelah puas berjalan-jalan dengan Mbak Rini, peserta D’Junction diajak nonton bareng film dokumenter “Sop Buntut” yang menjadi openning dari sesi seminar kedua.  Tak tanggung-tanggung, Lianto Luseno yang ditunjuk sebagai pembicara dari seminar yang bertema “how to make documenter, not documentation”. Nah sekadar informasi  buat Sobat Meclub, Lianto Luseno adalah seorang documentary producer di CineMassa lho!

Polo shirt cokelat, celana jeans, sepatu kets, dan rambut kriting sebahu. Sekiranya itu lah sedikit deskripsi penampilan Lianto Luseno saat mengisi seminar. Pria lulusan D3, Fakultas Film dan Televisi IKJ ini juga membagi informasi penting dan menarik seputar dunia film dokumenter kepada peserta D’Junction. “Film dokumenter itu seperti menganyam sebuah anyaman. Ini adalah soal kerajinan tangan, ya persoalan kerajinan saja.  Bagaimana Anda mau lebih banyak lelah daripada yang lain untuk mendapatkan hasil yang baik” paparnya ketika ditanyai pendapatnya mengenai film dokumenter”.

Foto bersama Lianto Luseno, pembicara seminar bertema "How to make documenter, not documentation" (Doc.Ritma)

Foto bersama Lianto Luseno (tengah), pembicara seminar bertema “How to make documenter, not documentation”

D’Junction sesi 2 ditutup dengan pemutaran film dokumenter bertajuk “Gorilla dari Gang Buntu” yang berhasil menyedot perhatian peserta seminar. Walau tidak seramai pada sesi 1, namun peserta yang tetap mengikuti seminar hingga akhir sesi 2 lebih beruntung karena mendapatkan hiburan tambahan. Sobat Meclub tahu acara The Voice Indonesia kan? Nah, salah satu finalis kebanggaan Universitas Bakrie yaitu Ayu Nanda menutup rangkaian acara D’Junction dengan membawakan lagu Karena Kusanggup milik Agnes Monica. Wowza! Gak heran deh Giring Nidji pilih dia di The Voice hehehe 😛

Ayu Nanda, mahasiswi Ilkom 2012 UB yang mengikuti ajang The Voice Indonesia, berhasil menghibur peserta  D'Junction.

Ayu Nanda, mahasiswi Ilkom 2012 UB yang mengikuti ajang The Voice Indonesia, berhasil menghibur peserta D’Junction. (Doc.Ritma)

Pera Sihite, mahasiswi Ilkom 2011 UB, mengaku puas dengan rangkaian acara D’Junction yang dihadirinya. “Aku suka banget apalagi yang travel writing nya karena aku suka jalan-jalan dan nulis. Kalau film, wawasan aku nambah karena acara ini”. Sebagai masukan bagi pihak panitia penyelenggara, Pera berharap semoga untuk kedepannya acara dapat lebih kreatif, inovatif, dan atraktif lagi, agar peserta yang hadir akan lebih banyak.

Berdasarkan penuturan ketua acara D’Junction, Rizaldy Yuzuf, D’Junction yang cukup berhasil menyabet perhatian pesertanya ini rencananya akan dibuat sebagai acara tahunan milik Ukma Jurnalistik UB. Great! Sure we are waiting for that 🙂

(CDASA)