EP Review – THE VACCINES: Melody Calling

Setelah tiga tahun lamanya terjun dalam panggung musik internasional, akhirnya The Vaccines, band asal London Barat yang beranggotakan empat pria usia duapuluhan mengeluarkan EP (extended play atau bisa juga kita artikan sebagai mini album) di pertengahan bulan Agustus ini. Album pertama mereka, What Did You Expect from The Vaccines? sukses menjadi soundtrack sepanjang musim di tahun 2011. Album kedua, Come of Age yang dirilis tahun lalu menjadi penerus kesuksesan The Vaccines di kancah indie dengan melanjutkan permainan gitar yang cukup mumpuni dari seorang Freddie Cowan (sang adik kecil dari Tom Cowan, pemain synthesizer The Horrors). EP Melody Calling yang memuat empat nomor ciamik ini nampaknya tidak hanya dirancang untuk kembali melanjutkan kesuksesan mereka, namun juga sebagai media pendewasaan diri dari band yang sampai detik ini sayangnya belum memiliki hajat untuk menginjakkan kaki di tanah air tercinta.

Sang single andalan berjudul sama dengan si EP, “Melody Calling” rupanya agak mengagetkan dengan beat yang sedikit asing bagi mereka yang sudah fasih dengan permainan drum Pete Robertson. Sekilas terdengar bak single keluaran Two Door Cinema Club (band tetangga dari bumi Irlandia Utara). Sangat pop, namun lama kelamaan menjadi sangat bersahabat bagi telingamu. Persiapkan hari-harim yang akan dipenuhi oleh gumaman “Melody Calling” yang enggan lepas dari benakmu.

“Do You Want A Man?” dibuka dengan alunan gitar beraroma psikedelia yang tentunya jarang sekali ditemui pada rilisan Vaccines manapun. Kembali dengan rumus nada-nada catchy, “Do You Want A Man?” menjadi nomor yang sedikit kelam namun tetap manis. Didengarkan menjelang petang hari sembari menyesap lemonade dan bercelana pendek, tentu kamu akan merasa segalau lirik lagu ini. “Everybody’s Gonna Let You Down” mengingatkan kita betapa The Vaccines ogah menerpa telinga terlalu lama dengan irama yang enerjik, selalu saja mereka berhasil menyelipkan peneduh telinga. Lagi-lagi diisi dengan lirik yang cukup depresif, hal yang menjadi kegemaran Justin Young si pemilik suara tebal. Sebagai penutup, John Hill dan Rich Costey, dua produser andal yang membantu perekaman EP ini di Los Angeles, memberikan karya remix mereka terhadap “Do You Want A Man?”. Hasilnya? Seratus delapanpuluh derajat: bak mendengarkan single band pop wanita tahun enampuluhan yang diwarnai bebunyian alat musik tiup yang ceria. Terlalu janggal, tetapi catchy.

EP Melody Calling dikreasikan sebagai jembatan menuju album ketiga mereka yang rencananya akan mulai dikerjakan pada awal tahun depan. Sebagai sebuah teaser, EP ini cukup menghibur dan memberikan gambaran mengenai kiblat musik The Vaccines kedepannya. Seperti halnya gaya berpakaian mereka yang berubah drastis (dari empat pemuda tanggung berpakaian absurd a la pasar Senen menjadi empat lelaki yang – uhuk – gondrong berotot dengan gaya fancy  jaman sekarang), Melody Calling adalah perubahan.

The Vaccines Melody Calling EP

TheVaccines_MelodyCallingEP

Rilis 11 Agustus 2013

Label: Columbia Records

Produser: John Hill dan Rich Costey

(Soraya Hanna)

Advertisements

Yuk, Jadi Kontributor Artikel Perjalanan Untuk Wego Indonesia!

Sobat Meclub suka jalan-jalan? Hobi nulis juga? Duh, jangan disimpan sendiri dong Sobat Meclub hehehe. Let the world knows your interesting traveling story!TED-Contribute-2-1

Mulai hari ini, minimal 500 ribuan fans Wego Indonesia bisa tau cerita perjalanan kamu, bisa lihat juga foto-foto menarik perjalanan kamu, kalau kamu jadi kontributor Travel Editor’s Desk Wego Indonesia.

Setiap hari, semua traveler punya kisah sendiri. Ada yang ceria, ada yang mengharu biru bahkan tak sedikit cerita konyol selama perjalanan. Maukah kamu berbagi kisah dan menjadi inspirasi bagi teman-teman lain untuk menjelajah nusantara?

Yuk, jadi kontributor artikel perjalanan untuk Wego Indonesia. Nanti, cerita atau foto kamu akan ditampilkan pada Travel Editor’s Desk Wego Indonesia dengan akreditasi kamu. Artinya, akan banyak traveler yang mendapatkan informasi menarik dari kamu.

Caranya?

  1. Kirim email ke redaksi@wego.com . Tuliskan “kontributor” pada subjectnya, dan tuliskan satu paragraf singkat tentang kamu. Lengkap dengan link blog pribadi kamu jika ada, atau link profil social media yang kamu punya. Jangan lupa, tuliskan email dan no telepon atau ponsel kamu ya.
  2. Kami akan membuatkan akun buat kamu. 
  3. Setelah memiliki akun, kamu bisa mulai posting cerita perjalanan kamu di web ini. Kami akan menerbitkan artikel perjalanan yang tidak mengandung SARA ataupun konten pornografi. Dilarang keras untuk jualan, ya. :)  
  4. Tulisan yang akan dipublikasikan terdiri dari minimal300 kata, dilengkapi oleh minimal 2 foto pendukung, mudah dipahami, boleh menggunakan gaya informal namun tetap berpegang pada kaidah penulisan kata yang baik dan benar.
  5. Untuk foto-foto, silahkan kirim ke redaksi@wego.com. Gunakan dropbox jika kamu ingin berbagi banyak foto. Jangan lupa, berikan informasi yang lengkap untuk masing-masing foto. Antara lain, lokasi foto dan keterangan mengenai foto tersebut. Jangan lupa, compress foto sehingga ukuran file tidak terlalu besar, maksimal 600KB. Ukuran foto diharapkan memiliki lebar maksimal  600 px. Silahkan memasang watermark pada kanan bawah foto. 
  6. Wego Indonesia juga menerima kontribusi berupa video. Kamu boleh upload video di web kamu atau Youtube.com sehingga bisa dipasang di artikel yang akan di-posting. (embed) Durasi video maksimum 3 menit.
  7. Wego Indonesia tidak memberikan kompensasi berupa materi untuk konten dari kontributor baik artikel, foto ataupun video. 
  8. Wego Indonesia akan mempublikasikan artikel, foto ataupun vidoe kontributor di Travel Editor’s Desk dan Fan Page Wego Indonesia yang kini memiliki 500 ribu fans, dengan akreditasi.

Tunggu apa lagi Sobat Meclub? Ditunggu lho partisipasinya. Wego Indonesia membuka pintu seluas-luasnya untuk kamu berbagi cerita, baik berupa tips wisata, cerita perjalanan untuk rubrik where to go, features tentang traveling ataupun catatan perjalanan sehari di rubrik daytripper.

Silahkan melihat beberapa contoh:

Tips : http://www.wego.co.id/berita/category/tips/

Where to go: http://www.wego.co.id/berita/category/where-to-go/

Daytripper: http://www.wego.co.id/berita/category/daytripper/

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Redaksi Travel Editor’s Desk Wego Indonesia di redaksi@wego.com.

Catatan Kecil Tentang Konser Band Metal Terbesar di Dunia

James Hetfield, vokalis Metallica, live di Jakarta (25/8) (sumber foto: rollingstones.co.id)

James Hetfield, vokalis Metallica, live di Jakarta (25/8) (sumber foto: rollingstones.co.id)

Ini akan menjadi catatan tentang sebuah momen yang akan saya kenang seumur hidup. Mari kita mulai!

Minggu, 25 Agustus 2013, Jakarta, atau tepatnya daerah di sekitar Senayan, dipenuhi oleh manusia-manusia berpakaian hitam. Laki-laki, perempuan, orang tua, anak kecil, semuanya ada. Bahkan ketika menginjak masuk ke FX pun di dalam juga sudah banyak manusia-manusia berbaju hitam. 25 Agustus 2013 memang akan tercatat dalam sejarah pertunjukan Indonesia sebagai hari dimana konser terbesar dan terdahsyat itu terjadi. Metallica datang! Seluruh umat metal di Indonesia menyambut senang.

Euforia ini tidaklah berlebihan mengingat sudah banyak orang yang menunggu Metallica kembali ke Jakarta selama dua puluh tahun ini. Banyak juga orang yang datang ke konser tadi malam karena terpancing hype yang begitu meledak di sekitarnya. Tapi, biar saja. Semua orang berhak bersenang-senang. Tapi bagi saya, datang ke konser Metallica wajib hukumnya.

Ketika kedatangan mereka yang pertama pada tahun 1993, saya baru berumur dua tahun. Jangankan Metallica, alfabet dan angka saja mungkin saya belum hafal. Yang jelas, begitu saya tumbuh lebih dewasa dan jatuh cinta pada ajaran heavy metal beserta para imam di dalamnya, termasuk Metallica, saya hanya bisa iri membayangkan suasana rusuh konser 1993 saat banyak orang yang bercerita. Ketika tiba-tiba ada informasi Metallica akan datang ke Jakarta, maka saya langsung memantapkan diri hari itu juga bahwa saya harus ada di antara penonton yang datang.

Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti menemukan hasil. Itu yang saya yakini ketika harus menebus tiket masuk sebesar Rp 750.000. Mengandalkan uang yang ada di tabungan saat itu jelas tidak cukup, menabung hingga cukup tentu terlalu mendadak, demi kehadiran di momen besar ini saya harus cari cara lain. Jual apa saja yang laku dijual, pinjam uang ke teman, dan semuanya yang memungkinkan terbukanya jalan menuju pertunjukan. Hasilnya, satu tiket berhasil saya genggam di hari pertama penjualan dibuka.

Kemudian 25 Agustus yang ditunggu itu pun datang. Setelah melewati hari-hari sebelumnya dengan menghafal bait-bait lirik sang pujaan, saya siap untuk bertemu keempat pemimpin sekte heavy metal ini. Walaupun sebenarnya tetap saja ada semacam perasaan paranoid yang mebuat saya bepikir bagaimana jika tiba-tiba konser ini batal di hari H seperti konser Avenged Sevenfold silam. Tapi begitu melihat lautan manusia hitam-hitam sore itu, saya rasa Tuhan tidak akan tega melihat puluhan ribu orang ini kecewa karena tidak bisa melihat “nabi” mereka.

Benar saja, ketika memasuki gerbang stadion Gelora Bung Karno, tempat diadakannya konser, saya terkejut bukan main melihat di dalam sudah dihitamkan oleh manusia-manusia yang berdesakan disorot oleh tata lampu panggung yang mengagumkan. Jantung saya makin tidak karuan. Semacam ada perasaan tidak sabar tapi juga tidak percaya. Saya pun kalap berlari sekencang mungkin melewati orang-orang yang berjalan santai masuk ke venue. Dalam hitungan kurang dari dua jam lagi, saya akan bertemu sebuah band legendaris yang diyakini sebagai nabi para umat heavy metal. Dalam hitungan kurang dari dua jam lagi, saya akan bertemu band metal terbesar di dunia. Coba bayangkan sendiri rasanya.

Saya harus menunggu setengah jam lebih lama dari yang dijadwalkan untuk melihat keempat personel Metallica muncul di atas panggung. Saya tidak peduli. Setengah jam itu dipakai kru Metallica untuk mengecek kualitas sound dari alat musik yang akan dipakai nanti. Begitu suara kick drum dijajal, DUMM! Saya langsung melihat teman di sebelah saya sambil tidak bisa berkata-kata. Ini adalah setelan sound paling luar biasa yang pernah saya dengan dalam hidup saya. Berturut-turut semua alat dipasang, saya tahu mimpi saya akan terwujud sebentar lagi.

Itu benar terjadi ketika lampu mulai dimatikan dan musik dimainkan pertanda konser akan dimulai. Benar saja, dalam satu menit kemudian, intro lagu ‘Hit The Lights’ dimainkan seraya mengantar keempat orang tua yang masih terlihat sangar nan gagah ke depan mata saya. Saat itu juga saya diam dengan mata tertuju ke panggung. Empat orang yang selama ini hanya bisa saya lihat di youtube, sekarang menggelar aksinya di depan mata. Pesta pun dimulai.

Mengantarkan ‘Hit The Lights’ pada teriakan-teriakan seisi GBK, keempat nabi heavy metal ini rupanya amat baik hati. Bagaimana tidak, nomor suci ‘Master of Puppets’ digeber saat itu juga tanpa basa-basi. Demi apapun, saya menunggu dua puluh tahun untuk melemparkan simbol metal di tangan saya sambil menggemakan takbir di lagu ini, ‘Master! Master!’. Terus berteriak hingga akhirnya menyanyikan melodi yang dimainkan sang gitaris, Kirk Hammet dalam teriakan “Oooo..” yang kompak. Sehari sebelumnya, teman saya yang juga hadir malam itu berkelakar bahwa jika menonton Metallica tapi tidak ada lagu ‘Master of Puppets’ rasanya sama seperti orgasme yang tipis. Maka saya beruntung malam itu.

Berlanjut pada ‘Fuel’ dan ‘Ride The Lightning’, pesta malam tadi semakin gila. Maka ketika James Hetfield, sang vokalis, menyapa metalhead yang hadir, “Do you miss your friends in Metallica?”, kami berteriak lantang, “YEAAHH!!!”. Seisi stadion tiba-tiba menanggalkan identitas siapa mereka, dari mana berasal, dan melebur menjadi satu identitas yang kolektif: umat heavy metal yang sedang khusyuk menghadap pemimpinnya.

Ketika lagu bertempo pelan, ‘Fade To Black’, gemetar itu makin menjalar ke dalam. Mata pun tak pelak mulai berkaca-kaca walaupun air mata belum terurai juga. ‘The Four Horsemen’, ‘Cyanide’, ‘Welcome Home (Sanitarium)’ masih bisa direspon dengan gagah perkasa sambil melompat-lompat di tempat. Ketika nomer berikutnya digelar, maka terjadilah yang sudah terbayangkan.

Momen tersakral bagi saya malam itu diawali oleh pertanyaan sang vokalis, Hetfield, “Do you want heavy? Metallica will give you heavy” Saya mulai deg-degan. Salah satu riff ter-heavy milik Metallica adalah lagu kesukaan saya, atau bisa dibilang satu dari tiga soundtrack hidup saya. Dan memang benar terjadi ketika intro itu menggelegar, ‘Sad But True’! Sampai dua bait awal Hetfield menyalak di lagu itu, saya masih diam menatapi panggung. Lagu ini semacam pengiring masa labil di usia SMA yang selalu merasa me-against-the-world. Seperti baru disadarkan saat reff yang paling dekat dengan saya selama bertahun-tahun ini benar-benar berkumandang. “You know it’s sad but true..” Saya melompat setinggi-tingginya, berteriak sekencang-kencangnya, menghantam tangan ke langit sekuatnya, dan air mata akhirnya meleleh juga. Di akhir lagu, saya harus menunduk sambil menutup mata yang basah di tengah puluhan ribu crowd yang hadir.

Selama track instrumental ‘Orion’ diputar pun saya masih merasa surealis. Masih tidak percaya bahwa malam ini adalah puncak terwujudnya mimpi yang sudah ditabung entah sejak kapan. Saya baru benar-benar mendapati diri saya kembali ketika ‘One’ berkumandang dengan khusyuk. Di sekitar saya pun akhirnya saya mulai melihat beberapa orang menangis. Kebanyakan dari mereka sudah bapak-bapak. Tampaknya kehadiran Metallica sudah membawa mereka ke nostalgi masa mudanya.

Kemudian lagu ‘For Whom The Bell Tolls’ yang benar-benar meyakinkan bahwa semua yang hadir di sini adalah mereka yang memang sudah terasuki dan terpilih untuk memeluk keyakinan metal dalam diri masing-masing. “For whom the bell tolls, the marches on” menjadi penjawab pertanyaan bagi mereka yang kerap bertanya DI depan atau DI Balkan saya, “Mau nonton konser aja, kok sampe segitunya sih?”

Dua nomor berikutnya adalah nomor Metallica paling pasaran yang pernah tercipta, ‘Nothing Else Matters’ dan ‘Enter Sandman’. Tak heran, seisi stadion mampu menyanyikan kedua lagu ini dengan fasih. Mengagumkan ketika ‘Nothing Else Matters’ mengalun lembut, di belakang saya ada sepasang laki-laki dan wanita setengah baya yang menyanyikan reffnya sambil berangkulan. Menakjubkan ketika seisi GBK bergetar bergerak berjingkrak menuju Neverland dibawa oleh ‘Enter Sandman’. Encore pun dibabat habis hingga saya harus berlompatan bertubrukan dengan para lelaki berumur yang nampaknya juga makin kalap ketika tahu perjamuan metal ini akan segeran ditutup. ‘Creeping Death’, ‘Fight Fire With Fire’, dan ‘Seek And Destroy’ menutup malam yang spektakuler ini.

Sampai konser berakhir saya masih merasa ini belum terjadi. Masih merasa sedang dalam penantian lebih kapan James, Lars, Kirk, dan Robert akan memulai aksinya. Padahal di panggung mereka sedang sibuk berterima kasih sambil membentangkan bendera merah putih yang dibawa metalhead Solo. Ketika tahu konser ini berakhir, maka mimpi yang terwujud ini pun berakhir. Berakhir untuk diwujudkan. Meski terwujudnya mimpi itu melebihi ekspektasi mimpi satu lagu. Mimpi yang besar adalah rangkuman dari dimensi mimpi yang lebih kecil. Seperti saya yang merasa kehadiran Metallica adalah mimpi yang terwujud untuk mewujudkan mimpi kecil saya: mendengar ‘Sad But True’ berkumandang secara langsung.

Dengan pertunjukan kelas dunia seperti ini juga dengan setlist yang sesuai ekspektasi (walau harus merelakan ‘And Justice For All’ tidak dimainkan), perasaan campur aduk, penantian panjang, hingga perjuangan mencari uang penebus tiket pun jelas terbayar tuntas. Terlepas dari menjadi bagian dari sebuah pertunjukan legendaris di showbiz Indonesia, saya hanyalah manusia berkostum hitam-hitam yang sama seperti manusia yang berkeliaran di Senayan hari itu. Perbedaannya adalah momen kesakralan di dalam alur pertunjukan. Di lagu apa mimpi kami terwujud, pengalaman kami yang mempengaruhi penilaian kualitas pertunjukan, serta nostalgi apa yang mengantarkan kami untuk mau berdesak-desakan dengan puluhan ribu orang berkeringat dalam satu tempat yang rapat. Di antara perbedaan itu, malam itu, di depan nama besar nabi heavy metal, Metallica, kami satu.

Rizaldy Yusuf

3 Fun Indonesia’s Fashion Blogs

Fashion blog menjadi salah satu situs yang menarik perhatian para remaja saat ini. Tak hanya kisah personal para bloggers-nya saja yang seru untuk dikepo-in, tapi juga gaya berpakaian mereka yang asyik untuk “dicontek”.

Indonesia’s fashion bloggers is more than Sonia Eryka and Diana Rikasari. Saatnya kamu take a look to other fashion blogs! Ini dia 3 fun fashion blogs yang seru untuk dikulik.

1. Elle and Jess

elle and jess

Kakak beradik ini kompak banget berbagi inspirasi gaya mereka di dalam blog yang mereka kelola. Yup, seperti nama blognya, nama  mereka Elle dan Jess. Wajah mereka yang cute a la bintang Korea ini membuat look mereka oh-so-KPOP STAR!

2. LUCEDALE

lucedale

Bagi kamu pecinta gaya vintage, blog ini tepat banget buat kamu! Clara Devi is so vintage darling. Selami keseruan nuansa jadul dan siapkan kocek untuk kembali ke flea market untuk berburu vintage outfit.

3. The Crème De La Crop

evita nuh

Gadis 14 tahun ini memang pecinta Fashion dan Fotografi. Perpaduan dua passionsnya ini bisa kamu saksikan di blog Evita Nuh yang bernuansa sedikit childish. Fun dan boho mungkin 2 kesan yang merepresentasikan gaya gadis yang fasih berbahasa Inggris ini.

(CHO)

Borrowed From The Boys

Boyish look memang bukan sebuah gaya baru untuk diikuti. Banyak fashion blogger yang menjadikan gaya kelaki-lakian ini sebagai signature stylenya. Selain terkesan cool, secara fungsional boyish look memang lebih simple dan nyaman untuk dikenakan. Sehingga si pemakainya juga akan merasa lebih nyaman.

Well, ini dia kami berikan beberapa fashion items yang identik dengan gaya tomboy. Hey Girls, you gotta try!

1. Trousers

mens trouser

Kamu tak perlu khawatir tampak culun jika memakai Men’s trouser yang terkesan kebesaran ini. You only need to pair it with feminine touch. V-neck Tee dan Flat Shoes dapat dijadikan pilihan untuk memberi sedikit kesan kewanitaan.

 

2. Boots

boots

Boots kini memang sudah sering terlihat wara wiri dipakai oleh siapa saja. Jadi, gak masalah lagi dong kalau para cewek juga pakai boots?Go wear it with your skinny jeans and oversized shirt. Sederhana tapi dijamin keren.

3. An Oversized Blazer

oversized blazer

Efek maskulin seketika mampir kedirimu saat oversized blazer nempel di badan kamu. Jangan bingung untuk memadupadankan item ini. Coba saja style model di atas dengan mengenakan white shirt, knitwear vest, dan skinny leather pants. Looks like an old school style is coming back!

4. Converse High Tops

shape,converse,nature,nice-2f1ed2d04bf759d1b9bd68df2a07c46e_h

It’s classic but we love it. Yup, it’s converse high tops! Kesan tomboy otomatis tampak kalau kamu pakai sepatu ini.Bahkan saat kamu padankan dengan mini atau maxi skirts sekalipun.

5. The beanie

beanie hat

Musim panas bisa, musim dingin apalagi. Beanie hat bisa dibilang jenis topi paling adaptable. Kepala dapat terlindungi dari serangan sengatan sinar matahari atau bahkan udara dingin. Beanie hat juga mampu meningkatkan kadar kesan maskulin pada cewek yang pakai topi ini lho.

Sumber Foto: Berbagai Sumber

(CHO)

Get Your Chino’s Style

Untuk kamu para cowok, saatnya mengganti koleksi celana jeans dengan celana chino, celana yang sedang in ini wajib menjadi salah satu koleksi outfit kamu.

Nah, buat kamu yang masih bingung celana chino model apa yang kira-kira sesuai,  coba simak beberapa jenis celana chino seperti yang dikutip dari web fashion beans.

1. Kasual

casual

Celana chino kasual dengan mudah di dapatkan dari berbagai brand, salah satunya GAP. Mudah saja untuk mengidentifikasi celana chino model ini, yaitu memiliki jahitan baik di bagian dalam maupun luar kaki. Bahannya sendiri cenderung tidak terlalu tebal sehingga bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau. Selain itu penggunaannya juga sedikit mirip dengan low-rise jeans yang dikenakan sedikit dibawah pinggul.

Karena terbuat dari bahan yang didesain khusus untuk terlihat kasual, padu padankan juga dengan atasan yang kasual yang kamu suka mulai dari kaus, jeans top hingga knitwear ataucardigan. Soal alas kaki pastinya juga harus yang bernuansa kasual seperti high-sneakers atau semi-boot. Masih bingung mengenakan apa untuk weekend ini? Coba kenakan setelan chino kasual ala kamu.

2. Workwear Pair

.3832163845_0ae1835f19_o

Perbedaan celana chino model ini bisa terlihat mudah dari bahan dan juga potongannya. Jika kebanyakan celana panjang pria di desain khusus untuk bisa pas di area pinggang dan juga memiliki potongan lurus (straight lines), beda halnya dengan celana chino ini yang sengaja didesain sedikit lebih ‘longgar’ untuk mendapatkan kesan yang maskulin. Banyak brand ternama seperti, Denim & Supply Ralph Lauren, Levi’s, Dockers and the Carhartts/Dickies yang secara khusus memproduksi chino model ini.

Jenis workwear pair chino cocok dikenakan untuk acara semi-formal. Gaya ini cocok untuk pria yang ingin tampil santai namun tetap menonjolkan sisi maskulinitas dengan potongan khas workwear pair chino. Paling sesuai dipadu-padankan dengan baju semi-formal juga seperti kaus polo.

3. The Smart/Dress Pair

formal chino

Mau pergi ke acara formal? Bukan masalah, chino juga bisa anda kenakan. Jenis chino satu ini populer dengan nama ‘smart chinos’. Mungkin sekilas anda bingung membedakannya dengan celana bahan biasa. Nah, perbedaanya terletak pada jahitan dalam dan luar celana yang lebih tegas dan lebih membuat lekuk lebih sempurna.

‘Smart Chinos’ identik dengan higher ‘rise’ yang memang diperuntukkan agar dikenakan secara rapih dan dapat dikenakan dengan sabuk. Berbicara dari segi bahan, sudah pasti ‘Smart Chinos’ dijahit dengan kain kualitas terbaik. Khawatir mengenai harganya? Tenang saja tak ada salahnya menjadikan satu pasang ‘Smart Chinos’ sebagai investasi fesyen anda, karena model ini tergolong timeless sehingga takada kata out of date. Untuk penampilan yang lebih sempurna, padankan dengan versatile dan pantofel atau mocashin.

Sumber Foto: http://www.fashionbeans.com

(NAS)