EP Review – THE VACCINES: Melody Calling

Setelah tiga tahun lamanya terjun dalam panggung musik internasional, akhirnya The Vaccines, band asal London Barat yang beranggotakan empat pria usia duapuluhan mengeluarkan EP (extended play atau bisa juga kita artikan sebagai mini album) di pertengahan bulan Agustus ini. Album pertama mereka, What Did You Expect from The Vaccines? sukses menjadi soundtrack sepanjang musim di tahun 2011. Album kedua, Come of Age yang dirilis tahun lalu menjadi penerus kesuksesan The Vaccines di kancah indie dengan melanjutkan permainan gitar yang cukup mumpuni dari seorang Freddie Cowan (sang adik kecil dari Tom Cowan, pemain synthesizer The Horrors). EP Melody Calling yang memuat empat nomor ciamik ini nampaknya tidak hanya dirancang untuk kembali melanjutkan kesuksesan mereka, namun juga sebagai media pendewasaan diri dari band yang sampai detik ini sayangnya belum memiliki hajat untuk menginjakkan kaki di tanah air tercinta.

Sang single andalan berjudul sama dengan si EP, “Melody Calling” rupanya agak mengagetkan dengan beat yang sedikit asing bagi mereka yang sudah fasih dengan permainan drum Pete Robertson. Sekilas terdengar bak single keluaran Two Door Cinema Club (band tetangga dari bumi Irlandia Utara). Sangat pop, namun lama kelamaan menjadi sangat bersahabat bagi telingamu. Persiapkan hari-harim yang akan dipenuhi oleh gumaman “Melody Calling” yang enggan lepas dari benakmu.

“Do You Want A Man?” dibuka dengan alunan gitar beraroma psikedelia yang tentunya jarang sekali ditemui pada rilisan Vaccines manapun. Kembali dengan rumus nada-nada catchy, “Do You Want A Man?” menjadi nomor yang sedikit kelam namun tetap manis. Didengarkan menjelang petang hari sembari menyesap lemonade dan bercelana pendek, tentu kamu akan merasa segalau lirik lagu ini. “Everybody’s Gonna Let You Down” mengingatkan kita betapa The Vaccines ogah menerpa telinga terlalu lama dengan irama yang enerjik, selalu saja mereka berhasil menyelipkan peneduh telinga. Lagi-lagi diisi dengan lirik yang cukup depresif, hal yang menjadi kegemaran Justin Young si pemilik suara tebal. Sebagai penutup, John Hill dan Rich Costey, dua produser andal yang membantu perekaman EP ini di Los Angeles, memberikan karya remix mereka terhadap “Do You Want A Man?”. Hasilnya? Seratus delapanpuluh derajat: bak mendengarkan single band pop wanita tahun enampuluhan yang diwarnai bebunyian alat musik tiup yang ceria. Terlalu janggal, tetapi catchy.

EP Melody Calling dikreasikan sebagai jembatan menuju album ketiga mereka yang rencananya akan mulai dikerjakan pada awal tahun depan. Sebagai sebuah teaser, EP ini cukup menghibur dan memberikan gambaran mengenai kiblat musik The Vaccines kedepannya. Seperti halnya gaya berpakaian mereka yang berubah drastis (dari empat pemuda tanggung berpakaian absurd a la pasar Senen menjadi empat lelaki yang – uhuk – gondrong berotot dengan gaya fancy  jaman sekarang), Melody Calling adalah perubahan.

The Vaccines Melody Calling EP

TheVaccines_MelodyCallingEP

Rilis 11 Agustus 2013

Label: Columbia Records

Produser: John Hill dan Rich Costey

(Soraya Hanna)

Advertisements

Catatan Kecil Tentang Konser Band Metal Terbesar di Dunia

James Hetfield, vokalis Metallica, live di Jakarta (25/8) (sumber foto: rollingstones.co.id)

James Hetfield, vokalis Metallica, live di Jakarta (25/8) (sumber foto: rollingstones.co.id)

Ini akan menjadi catatan tentang sebuah momen yang akan saya kenang seumur hidup. Mari kita mulai!

Minggu, 25 Agustus 2013, Jakarta, atau tepatnya daerah di sekitar Senayan, dipenuhi oleh manusia-manusia berpakaian hitam. Laki-laki, perempuan, orang tua, anak kecil, semuanya ada. Bahkan ketika menginjak masuk ke FX pun di dalam juga sudah banyak manusia-manusia berbaju hitam. 25 Agustus 2013 memang akan tercatat dalam sejarah pertunjukan Indonesia sebagai hari dimana konser terbesar dan terdahsyat itu terjadi. Metallica datang! Seluruh umat metal di Indonesia menyambut senang.

Euforia ini tidaklah berlebihan mengingat sudah banyak orang yang menunggu Metallica kembali ke Jakarta selama dua puluh tahun ini. Banyak juga orang yang datang ke konser tadi malam karena terpancing hype yang begitu meledak di sekitarnya. Tapi, biar saja. Semua orang berhak bersenang-senang. Tapi bagi saya, datang ke konser Metallica wajib hukumnya.

Ketika kedatangan mereka yang pertama pada tahun 1993, saya baru berumur dua tahun. Jangankan Metallica, alfabet dan angka saja mungkin saya belum hafal. Yang jelas, begitu saya tumbuh lebih dewasa dan jatuh cinta pada ajaran heavy metal beserta para imam di dalamnya, termasuk Metallica, saya hanya bisa iri membayangkan suasana rusuh konser 1993 saat banyak orang yang bercerita. Ketika tiba-tiba ada informasi Metallica akan datang ke Jakarta, maka saya langsung memantapkan diri hari itu juga bahwa saya harus ada di antara penonton yang datang.

Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti menemukan hasil. Itu yang saya yakini ketika harus menebus tiket masuk sebesar Rp 750.000. Mengandalkan uang yang ada di tabungan saat itu jelas tidak cukup, menabung hingga cukup tentu terlalu mendadak, demi kehadiran di momen besar ini saya harus cari cara lain. Jual apa saja yang laku dijual, pinjam uang ke teman, dan semuanya yang memungkinkan terbukanya jalan menuju pertunjukan. Hasilnya, satu tiket berhasil saya genggam di hari pertama penjualan dibuka.

Kemudian 25 Agustus yang ditunggu itu pun datang. Setelah melewati hari-hari sebelumnya dengan menghafal bait-bait lirik sang pujaan, saya siap untuk bertemu keempat pemimpin sekte heavy metal ini. Walaupun sebenarnya tetap saja ada semacam perasaan paranoid yang mebuat saya bepikir bagaimana jika tiba-tiba konser ini batal di hari H seperti konser Avenged Sevenfold silam. Tapi begitu melihat lautan manusia hitam-hitam sore itu, saya rasa Tuhan tidak akan tega melihat puluhan ribu orang ini kecewa karena tidak bisa melihat “nabi” mereka.

Benar saja, ketika memasuki gerbang stadion Gelora Bung Karno, tempat diadakannya konser, saya terkejut bukan main melihat di dalam sudah dihitamkan oleh manusia-manusia yang berdesakan disorot oleh tata lampu panggung yang mengagumkan. Jantung saya makin tidak karuan. Semacam ada perasaan tidak sabar tapi juga tidak percaya. Saya pun kalap berlari sekencang mungkin melewati orang-orang yang berjalan santai masuk ke venue. Dalam hitungan kurang dari dua jam lagi, saya akan bertemu sebuah band legendaris yang diyakini sebagai nabi para umat heavy metal. Dalam hitungan kurang dari dua jam lagi, saya akan bertemu band metal terbesar di dunia. Coba bayangkan sendiri rasanya.

Saya harus menunggu setengah jam lebih lama dari yang dijadwalkan untuk melihat keempat personel Metallica muncul di atas panggung. Saya tidak peduli. Setengah jam itu dipakai kru Metallica untuk mengecek kualitas sound dari alat musik yang akan dipakai nanti. Begitu suara kick drum dijajal, DUMM! Saya langsung melihat teman di sebelah saya sambil tidak bisa berkata-kata. Ini adalah setelan sound paling luar biasa yang pernah saya dengan dalam hidup saya. Berturut-turut semua alat dipasang, saya tahu mimpi saya akan terwujud sebentar lagi.

Itu benar terjadi ketika lampu mulai dimatikan dan musik dimainkan pertanda konser akan dimulai. Benar saja, dalam satu menit kemudian, intro lagu ‘Hit The Lights’ dimainkan seraya mengantar keempat orang tua yang masih terlihat sangar nan gagah ke depan mata saya. Saat itu juga saya diam dengan mata tertuju ke panggung. Empat orang yang selama ini hanya bisa saya lihat di youtube, sekarang menggelar aksinya di depan mata. Pesta pun dimulai.

Mengantarkan ‘Hit The Lights’ pada teriakan-teriakan seisi GBK, keempat nabi heavy metal ini rupanya amat baik hati. Bagaimana tidak, nomor suci ‘Master of Puppets’ digeber saat itu juga tanpa basa-basi. Demi apapun, saya menunggu dua puluh tahun untuk melemparkan simbol metal di tangan saya sambil menggemakan takbir di lagu ini, ‘Master! Master!’. Terus berteriak hingga akhirnya menyanyikan melodi yang dimainkan sang gitaris, Kirk Hammet dalam teriakan “Oooo..” yang kompak. Sehari sebelumnya, teman saya yang juga hadir malam itu berkelakar bahwa jika menonton Metallica tapi tidak ada lagu ‘Master of Puppets’ rasanya sama seperti orgasme yang tipis. Maka saya beruntung malam itu.

Berlanjut pada ‘Fuel’ dan ‘Ride The Lightning’, pesta malam tadi semakin gila. Maka ketika James Hetfield, sang vokalis, menyapa metalhead yang hadir, “Do you miss your friends in Metallica?”, kami berteriak lantang, “YEAAHH!!!”. Seisi stadion tiba-tiba menanggalkan identitas siapa mereka, dari mana berasal, dan melebur menjadi satu identitas yang kolektif: umat heavy metal yang sedang khusyuk menghadap pemimpinnya.

Ketika lagu bertempo pelan, ‘Fade To Black’, gemetar itu makin menjalar ke dalam. Mata pun tak pelak mulai berkaca-kaca walaupun air mata belum terurai juga. ‘The Four Horsemen’, ‘Cyanide’, ‘Welcome Home (Sanitarium)’ masih bisa direspon dengan gagah perkasa sambil melompat-lompat di tempat. Ketika nomer berikutnya digelar, maka terjadilah yang sudah terbayangkan.

Momen tersakral bagi saya malam itu diawali oleh pertanyaan sang vokalis, Hetfield, “Do you want heavy? Metallica will give you heavy” Saya mulai deg-degan. Salah satu riff ter-heavy milik Metallica adalah lagu kesukaan saya, atau bisa dibilang satu dari tiga soundtrack hidup saya. Dan memang benar terjadi ketika intro itu menggelegar, ‘Sad But True’! Sampai dua bait awal Hetfield menyalak di lagu itu, saya masih diam menatapi panggung. Lagu ini semacam pengiring masa labil di usia SMA yang selalu merasa me-against-the-world. Seperti baru disadarkan saat reff yang paling dekat dengan saya selama bertahun-tahun ini benar-benar berkumandang. “You know it’s sad but true..” Saya melompat setinggi-tingginya, berteriak sekencang-kencangnya, menghantam tangan ke langit sekuatnya, dan air mata akhirnya meleleh juga. Di akhir lagu, saya harus menunduk sambil menutup mata yang basah di tengah puluhan ribu crowd yang hadir.

Selama track instrumental ‘Orion’ diputar pun saya masih merasa surealis. Masih tidak percaya bahwa malam ini adalah puncak terwujudnya mimpi yang sudah ditabung entah sejak kapan. Saya baru benar-benar mendapati diri saya kembali ketika ‘One’ berkumandang dengan khusyuk. Di sekitar saya pun akhirnya saya mulai melihat beberapa orang menangis. Kebanyakan dari mereka sudah bapak-bapak. Tampaknya kehadiran Metallica sudah membawa mereka ke nostalgi masa mudanya.

Kemudian lagu ‘For Whom The Bell Tolls’ yang benar-benar meyakinkan bahwa semua yang hadir di sini adalah mereka yang memang sudah terasuki dan terpilih untuk memeluk keyakinan metal dalam diri masing-masing. “For whom the bell tolls, the marches on” menjadi penjawab pertanyaan bagi mereka yang kerap bertanya DI depan atau DI Balkan saya, “Mau nonton konser aja, kok sampe segitunya sih?”

Dua nomor berikutnya adalah nomor Metallica paling pasaran yang pernah tercipta, ‘Nothing Else Matters’ dan ‘Enter Sandman’. Tak heran, seisi stadion mampu menyanyikan kedua lagu ini dengan fasih. Mengagumkan ketika ‘Nothing Else Matters’ mengalun lembut, di belakang saya ada sepasang laki-laki dan wanita setengah baya yang menyanyikan reffnya sambil berangkulan. Menakjubkan ketika seisi GBK bergetar bergerak berjingkrak menuju Neverland dibawa oleh ‘Enter Sandman’. Encore pun dibabat habis hingga saya harus berlompatan bertubrukan dengan para lelaki berumur yang nampaknya juga makin kalap ketika tahu perjamuan metal ini akan segeran ditutup. ‘Creeping Death’, ‘Fight Fire With Fire’, dan ‘Seek And Destroy’ menutup malam yang spektakuler ini.

Sampai konser berakhir saya masih merasa ini belum terjadi. Masih merasa sedang dalam penantian lebih kapan James, Lars, Kirk, dan Robert akan memulai aksinya. Padahal di panggung mereka sedang sibuk berterima kasih sambil membentangkan bendera merah putih yang dibawa metalhead Solo. Ketika tahu konser ini berakhir, maka mimpi yang terwujud ini pun berakhir. Berakhir untuk diwujudkan. Meski terwujudnya mimpi itu melebihi ekspektasi mimpi satu lagu. Mimpi yang besar adalah rangkuman dari dimensi mimpi yang lebih kecil. Seperti saya yang merasa kehadiran Metallica adalah mimpi yang terwujud untuk mewujudkan mimpi kecil saya: mendengar ‘Sad But True’ berkumandang secara langsung.

Dengan pertunjukan kelas dunia seperti ini juga dengan setlist yang sesuai ekspektasi (walau harus merelakan ‘And Justice For All’ tidak dimainkan), perasaan campur aduk, penantian panjang, hingga perjuangan mencari uang penebus tiket pun jelas terbayar tuntas. Terlepas dari menjadi bagian dari sebuah pertunjukan legendaris di showbiz Indonesia, saya hanyalah manusia berkostum hitam-hitam yang sama seperti manusia yang berkeliaran di Senayan hari itu. Perbedaannya adalah momen kesakralan di dalam alur pertunjukan. Di lagu apa mimpi kami terwujud, pengalaman kami yang mempengaruhi penilaian kualitas pertunjukan, serta nostalgi apa yang mengantarkan kami untuk mau berdesak-desakan dengan puluhan ribu orang berkeringat dalam satu tempat yang rapat. Di antara perbedaan itu, malam itu, di depan nama besar nabi heavy metal, Metallica, kami satu.

Rizaldy Yusuf

YES IT REALLY, REALLY, REALLY COULD HAPPEN (Blur at Big Sound Festival 2013)

Sekali lagi, Jakarta disambangi oleh tamu besar asal negeri Britania Raya. Setelah kedatangan The Stone Roses dan Bloc Party beberapa waktu lalu, kini saatnya jagoan musik ternama era sembilan puluhan yang mengguncang ibu kota. Rabu (15/5) menjadi hari yang sulit dilupakan bagi pecinta rival Oasis, Blur, karena pada hari itu lah mereka menyaksikan para duta besar Britpop beranggotakan Graham Coxon, Damon Albarn, Alex James dan Dave Rowntree beraksi di tanah air. Penantian panjang selama belasan tahun akan terbayarkan hanya dalam satu malam saja. Dan Lapangan D Senayan, dalam acara Big Sound Festival yang diprakarsai oleh Dyandra Entertainment menjadi media penghubung antara die-hard fans Blur dengan empat lelaki asal Essex, Inggris tersebut.

Petang itu, Van She dan Tegan and Sara sukses menjadi penampil awal festival yang belum terlalu disesaki penonton. Selang Tegan and Sara menghilang ke belakang panggung sekitar pukul tujuh lebih, segelintir pengunjung beralih ke panggung kecil yang dihuni oleh BRNDLS, idola rock ibu kota yang dengan berandal membawakan beberapa lagu andalannya. Tepat setelahnya, panggung utama kembali dihidupkan untuk menampilkan The Temper Trap, band asal Australia yang diketuai oleh pemuda Indonesia asal tanah Manado, Dougy Mandagi. Penampilan mereka dibuka oleh hits “Love Lost” yang mengundang nyanyian spontan dari para penonton. Mereka membawakan hits dari album lama maupun baru, seperti “Science of Fear”, “The Drum Song” yang enerjik, dan ditutup dengan manis oleh “Sweet Disposition”. Arloji menunjukkan pukul sembilan kurang lima belas menit ketika perlengkapan The Temper Trap dibereskan dan alat-alat musik milik Blur dipersiapkan diatas panggung besar tersebut. Bloody hell, batin saya, sebentar lagi Blur akan segera tampil and I’m the one who’s getting nervous. Para fans berat yang sudah tidak sabaran dengan syahdu menyanyikan panggilan wajib untuk Blur, “Oh my baby, oh my baby, oh why, oh my…” yaitu sebuah potongan lirik dari lagu “Tender”. Rasa panik, grogi, senang sekaligus sedih menghantui saya tepat sebelum Blur muncul di panggung.

Pukul sembilan lewat sedikit, lampu sorot berwarna kuning seketika membiru dan backdrop panggung bervisual jalan layang di London Barat, Westway, semakin terlihat jelas. Salah satu lagu instrumental milik Blur, “Theme From Retro” diperdengarkan melalui speaker dan nuansa dark yang tercipta membuat saya yakin seluruh penonton merasakan hal yang sama, merinding. Keempat petinggi Britpop yang sudah tidak muda lagi itu lalu muncul begitu saja di panggung, ditemani beberapa additional musician dan juga penyanyi latar. Damon terlihat mengenakan kaus hitam dengan jaket denim biru tua, Graham dengan kaus merah dan topi fedora bulat, Alex berkemeja putih bersih layaknya pria sejati dan beraksesoriskan sebatang rokok di bibir, dan Dave seperti biasa, dengan bersahaja mengenakan polo shirt Fred Perry hitam.

blur (2)

Tanpa buang waktu, intro “Girls and Boys” diperdengarkan dan penonton bagaikan kesetanan. “Street’s like a jungle…” serentak dinyanyikan dari segala penjuru. Saya rasa tidak mungkin ada yang berdiam diri bagai batu saat lagu ini dibawakan, semua terbius dan berjoget layaknya tak memiliki rasa capai. Seakan paham suasana masih panas, Damon dan kawan-kawan langsung kembali menghajar dengan “Popscene”, sebuah hits asal tahun 1992 yang masih disegani hingga dua puluh tahun lebih kemudian.

blur

Lautan manusia pedansa tak kenal jenis kelamin maupun usia, dan semua terjangkiti oleh kegilaan lagu ini. Graham si pemain gitar berkacamata tebal sampai-sampai melakukan jungkir balik sambil bermain gitar dan menyebabkan topi kesayangannya jatuh entah kemana.  Lagu berikutnya, sebuah hits dari album pertama mereka, Leisure, yaitu “There’s No Other Way”. Lagi-lagi nyanyian penonton masih belum berakhir karena tampaknya mereka semua hafal lirik Blur, hingga Damon memuji mereka: “You’ve got good strong voices!”. Namun tunggu hingga agak mendekati penghujung show

blurr

Lagu kelima, “Beetlebum” dibawakan dengan manis dan membuat saya kembali terbawa ke tahun sembilan puluhan, ketika pertama kali saya mendengar lagu ini di sebuah channel TV musik. Selanjutnya sebuah hits dari album ketujuh Blur, “Out of Time” yang sempat merajai tangga lagu di radio-radio pada masanya. Damon yang turut menenteng gitar sambil bernyanyi kemudian beranjak ke “Trimm Trabb”, sebuah lagu yang bercerita tentang sepatu keluaran brand olahraga terkenal. Pria yang juga dikenal berkat kreasi musiknya di Gorillaz ini pun turun ke barisan penonton untuk turut bernyanyi langsung dihadapan para penonton kelas VIP yang entah bermimpi apa semalam.

blur4

blur5

Tiga hits tak terlupakan selanjutnya ialah “Caramel”, “Coffee & TV”, dan “Tender”. Graham yang menjadi vokalis kala “Coffe & TV” menyapa Jakarta dengan singkat, “Good evening!”, ujarnya. Sayang, Graham yang malam itu menggunakan gitar Telecaster dan Jaguar serta Gibson Les Paul, sepertinya kurang puas dengan kualitas output gitar yang keluar dari speaker, sehingga ia tampak kecewa saat membawakan “Caramel”. Volume speaker menurut saya juga kurang maksimal untuk ukuran sebuah konser musik luar ruang, dan itu sangat terasa di lagu kesebelas, “Country House” (lagi-lagi Damon memanjakan para penonton kelas VIP dengan bernyanyi di pagar barikade penonton) yang diwarnai oleh bebunyian kaya yang diproduksi oleh brass section yang turut dibawa mereka ke Jakarta. Syukur, yang berpentas malam itu ialah sebuah penampil sekelas Blur, sehingga semua kekurangan itu terasa termaafkan.

blur7

Parklife”, sebuah single dari album berjudul sama dibawakan tanpa kehadiran Phil Daniels, seorang aktor yang bernarasi panjang dengan aksen kental a la penduduk London di lagu tersebut. Sebagai gantinya, Damon dengan tangkas memegang peran ganda sebagai narator dan juga penyanyi di lagu yang memenangkan Best British Single di ajang BRIT Awards tahun 1995 tersebut. Damon si enerjik dengan spontan melakukan gerakan jogging yang pasti dikenal oleh mereka yang pernah menonton video klip lagu ini. Tiga lagu sebelum encore berhasil dibawakan tanpa cacat dan mengharu biru. “End of A Century”, salah satu hits favorit yang terinspirasi dari kehidupan Damon di apartemennya di London bersama kekasihnya saat itu, Justine Frischmann, sukses membuat saya kehabisan suara. Selanjutnya ialah sebuah lagu Blur yang cukup underrated, “Death Of a Party”. Lagu yang bernuansa gloomy ini sayangnya bukan menjadi favorit para fans Blur kebanyakan, terlihat dari sedikitnya penonton yang ikut bernyanyi bersama Damon (disekeliling saya, mereka pun sepertinya bingung melihat hanya saya dan rekan yang hafal lirik lagu ini). “This Is A Low” menjadi lagu manis yang membuat keempat pria yang sempat bubar setelah album ketujuh dan baru reuni tahun 2009 lalu, menghilang untuk sementara ke belakang panggung.

blur8

Aksi encore itu tak lama berlangsung, meskipun teriakan ‘we want more’ tidak terlalu riuh terdengar, karena mungkin penonton sudah kehabisan tenaga untuk melakukannya. Tak lama, keempat pria itu kembali ke atas panggung, dan Damon bersiap dengan pianonya untuk sebuah lagu haru, “Under The Westway”.  Lagu yang tergolong cukup baru ini (umurnya belum genap satu tahun) juga kurang menjadi prioritas dalam ritual-menghafal-lirik-sebelum-menonton-konser bagi para penggemar Blur kebanyakan. Selanjutnya, lagu tentang pemuda dan pemudi abad ke duapuluh, “For Tomorrow” dibawakan dan kibasan poni fenomenal khas Alex si bassist yang kini berprofesi sebagai wirausahawan pembuat keju, akhirnya terjadi juga di Jakarta.

blur9

Tepat sebelum lagu selanjutnya, Damon angkat bicara. “You have genuinely been an inspiration tonight, thank you so much…”, ujarnya. Pujian singkat dari Damon untuk publik Indonesia semakin membuat Lapangan D malam itu mengharu biru karena tepat setelahnya, intro strings untuk “The Universal” terdengar dan membuat bulu kuduk entah mengapa kompak untuk berdiri. “Yes it really, really, really could happen…” lirik “The Universal” yang mengundang koor penonton dengan tepat menggambarkan suasana hati saat menyaksikan sang idola langsung dengan mata kepala sendiri malam itu. Para fans yang rajin memantau susunan lagu Blur saat konser di berbagai kesempatan sudah pasti paham bahwa sebentar lagi saatnya untuk mengucapkan perpisahan. “Jakartaaaaa! Indonesiaaaa!!” sahut Damon. Ternyata itu ialah teriakan pembakar semangat menuju “Song 2”, sebuah lagu gila yang diciptakan untuk menyindir scene grunge sembilan puluhan. “Song 2” menjadi penutup pentas Blur malam itu dan menjadi pemicu gelombang pedansa dadakan yang sudah tidak bisa didefinisikan lagi jenis tariannya. Tepat setelah Damon berteriak “Oh yeah!” para pedansa semacam terbius untuk berhenti dan menyaksikan Damon, Alex, Dave, dan Graham berangkulan dan membungkuk berterimakasih dihadapan ribuan penghuni Lapangan D malam itu.

blur10

Haru menjadi kosakata yang cocok untuk dipadankan dengan kesan setelah menyaksikan penampilan Blur kali itu. Keempat pria yang selama bertahun-tahun hanya bisa disaksikan melalui video, TV, dan poster di kamar para fanboy dan fangirl, malam itu menjadi hidup dan hadir di depan mata hanya dalam durasi kurang lebih dua jam. Meskipun beberapa lagu canggih seperti “Sunday Sunday”, “Sing”, “Advert”, “To The End” dan “She’s So High” tidak dibawakan, penampilan Blur rabu malam itu sudah lebih dari cukup dan membuat fans Blur era shoegaze/Madchester, era Britpop, maupun era alternatif terpuaskan dan terpenuhi kerinduannya. Performa hebat Damon dan rekan yang tidak berusia duapuluhan lagi patut diacungi jempol dan diberikan apresiasi lebih. Malam itu, Lapangan D berubah menjadi Lapangan Damon dan para pemuja Blur di Indonesia tidur satu negara dengan Damon, Alex, Dave, dan Graham.

blur11

Ups:

–         Brass section untuk beberapa lagu seperti “Popscene”, “Country House”, dan “For Tomorrow”

–         Lighting yang oke

–         Permainan beberapa instrumen oleh Damon yaitu gitar dan piano. Superb!

Downs:

–         Volume speaker kurang meledak

–         Layar live di kanan kiri panggung beberapa kali mati

–         Dua jam? KURAAANG!

Setlist:

Theme From Retro (PA intro)

Girls and Boys

Popscene

There’s No Other Way

Badhead

Beetlebum

Out of Time

Trimm Trabb

Caramel

Coffee & TV

Tender

Country House

Parklife

End of A Century

Death of A Party

This Is A Low

— encore —

Under The Westway

For Tomorrow

The Universal

Song 2

Sumber gambar: www.hai-online.com, dan damonalbarn.tumblr.com

Oleh Soraya Hanna, with special thanks to Feriandi Yakob.

Gerimis Rabu Malam, Poni Lempar, dan Kegilaan Helikopter

Konser Bloc Party, Tennis Indoor Senayan— Rabu 20 Maret lalu menjadi tanggal bersejarah, setidaknya bagi para pendengar musik bertelinga cerdas yang memuja band asal Inggris ini. Penantian selama delapan tahun (terhitung sejak 2005, tahun saat mereka muncul ke permukaan) akhirnya datang juga. Malam itu, Tennis Indoor Senayan yang bercuaca rintik-rintik akibat diguyur hujan sore harinya, disesaki pemuda-pemudi berusia duapuluhan yang berdandan keren dan apik ala masa kini. Semua tentu menunggu penampilan empat pemuda bernama Kele Okereke, Matt Tong, Russell Lissack dan Gordon Moakes yang menyebut diri mereka Bloc Party. Namun sebelum itu, aksi indie-pop lokal bernama The Adams menghibur para muda-mudi Indonesia (dan beberapa bule yang terlihat menjulang diantara mereka) dengan hits seperti “Konservatif”, “Hanya Kau”, dan “Halo Beni”.

Sumber foto: Hai Online

Sumber foto: Hai Online

Selang menghilangnya The Adams dari panggung, para hadirin cukup dibuat bosan dengan menunggu dan menunggu. Saya sendiri menghitung dengan arloji, bahwa setidaknya satu jam terbuang dengan menonton video iklan dari promotor di layar kanan-kiri panggung, juga mengamati para crew hilir mudik mengetes alat musik para bintang malam itu. Dan akhirnya pukul 10 malam lebih sedikit, para jejaka London tersebut muncul di panggung. Kele terlihat mengenakan kaus bertuliskan ‘Support your local artist’ dengan pilihan font Helvetica, Russell dengan kaus kekecilan dan poni lempar yang jadi ciri khasnya, Gordon berkemeja santun, dan Matt hanya mengenakan apa yang disebut para wanita sebagai hot pants tanpa penutup tubuh bagian atas. Tanpa ba-bi-bu publik dihajar dengan “So He Begins To Lie”, tembang dari album teranyar mereka, Four. Mungkin publik kurang begitu terbakar dengan lagu ini, sehingga setelahnya, Kele sang vokalis menyapa, “Hello, we’re Bloc Party from London, England!’ dengan aksen British yang kental. Respon yang masih datar membuatnya kembali berteriak, “I said we’re Bloc Party from London, England, how’re you doin’!

Sumber Foto: Okezone

Sumber Foto: Okezone

Hingga lagu keenam, Kele dan rekan terus menyuguhi Tennis Indoor dengan single mereka, namun tanpa adanya lagu dari album pertama yang legendaris. “Banquet” lah yang menebus ‘dosa’ tersebut, yang langsung disambut gila oleh penonton. Tanpa ampun, “Coliseum” yang bernafas hard-rock, “Day Four”, hingga “One More Chance” yang mengubah lapangan tenis menjadi dance floor dibawakan dengan indah oleh Bloc Party. “Octopus” dan “We Are Not A Good People” menyusul dan mengakhiri sesi apa yang Kele sebut sebagai first round. Ah, ternyata empat pemuda itu berlalu ke belakang panggung, bersiap untuk aksi klasik konser yang dikenal dengan encore.

Sumber Foto: Hai Online

Sumber Foto: Hai Online

Dengan sedikit panggilan manja dari para fans, “we want more”, mereka muncul lagi di panggung dan membawakan “Kreuzberg”, hits manis dari album kedua. Satu lagu setelahnya, Kele si pemuda berkulit hitam legam bercerita bahwa mereka akan membawakan lagu yang pasti sudah ditunggu-tunggu sejak delapan tahun lalu. Dan benar saja, intro gitar “This Modern Love” berkumandang dan sekali lagi, lapangan tenis bergoyang. Selepasnya, Kele mengajak para wanita turut menyanyikan suatu lagu, seiring ketiga musisi memainkan irama musik dari “We Found Love” milik Rihanna (Gordon sang bassist beralih peran dengan memainkan synthesizer). Ternyata mereka memakainya sebagai intro menuju “Flux”, lagu Bloc Party beraroma disco yang diambil dari album A Weekend In The City versi re-issue. Entah hanya saya saja yang merasakan hal ini, tapi hanya terlihat sebagian penonton yang berdansa dengan lagu seenerjik itu. Mungkin mereka memang kurang familiar dengan hits ini (yang memang tidak masuk di rilisan awal A Weekend In The City). Bloc Party kembali menghilang ke belakang panggung setelahnya.

Sumber Foto: Hai Online

Sumber Foto: Hai Online

Encore kedua menghasilkan lagu megah, dahsyat dan syahdu berjudul “Sunday”. Seisi lapangan tenis bersenandung mengikuti Kele, dan sayapun menyaksikan sepasang pria yang sepertinya bersahabat, berangkulan dan mengerahkan isi hati dan pita suaranya untuk lagu ini. Mungkin mereka memiliki pengalaman pribadi mirip dengan penggalan lirik lagu ini? “I love you in the morning, when you’re still hangover”. Entahlah. Yang pasti setelahnya, “Like Eating Glass” diperdengarkan. Penonton bersikap seakan tahu bahwa show akan segera berakhir, mereka ber-sing along dengan riuhnya mengikuti suara Kele yang berkarakter tebal dan unik. Benar saja, Russell segera menyiksa amplifier dengan intro “Helicopter”, satu lagu yang sudah pasti menjadi penutup konser Bloc Party. Hanya satu kata tersedia di kamus bahasa Indonesia untuk menggambarkan reaksi para fans, PECAH.

Sumber Foto: Hai Online

Sumber Foto: Hai Online

Euforia Rabu malam menyisakan beberapa ganjalan di diri mereka yang hadir di Senayan kali itu. Beberapa hits favorit seperti “Mercury”, “So Here We Are”, “The Prayer”, dan “Pioneers” luput dibawakan oleh kuartet multi-etnis tersebut. Entah tujuan apa yang ingin diraih dengan ditinggalkannya hits diatas, namun kiranya performa Bloc Party malam itu cukup memuaskan dan membuat saya kerap senyum-senyum sendiri hingga sekarang. Sebuah malam yang menghibur kerinduan publik Indonesia akan aksi indie rock jempolan namun bersahaja yang berasal dari negeri hooligan.

(Soraya Hanna)